Terbang dengan Cathay Pacific

Pada 30 Maret 2015, saya berkesempatan untuk terbang ke Beijing, Tiongkok, dengan maskapai Cathay Pacific. Pertama kali bagi saya menggunakan airline yang berbasis di Hongkong ini. Meski sebenarnya Cathay (atau CX) merupakan salah satu maskapai lama di dunia penerbangan Asia dan Jakarta menjadi destinasi tetap selain Denpasar. Setiap hari CX melayani 2 penerbangan Cengkareng – Hongkong yang salah satunya adalah jam 08:20 wib seperti yang saya tumpangi. Namun pagi itu CX 178 delay 20 menit dari jadwal karena alasan operasional. Berikut pengalaman singkat terbang dengan CX.

Kesan Pertama
Seperti maskapai Besar lainnya, CX melayani penerbangan berjarak menengah dengan pesawat berbadan lebar. Untuk penerbangan ini saya menumpangi Airbus A330 yang sepertinya berseri 300.

image

Pesawatnya tampak agak tua jika di lihat dari interiornya. Namun demikian suara dan getaran mesin masih terasa halus seperti pesawat berusia muda saat terbang. Seperti pesawat seri A330/40 lainnya, tempat duduk di kelas ekonomi tak begitu lebar namun ruang kaki yang cukup lega.

image

Fasilitas
Fasilitas standard semacam headphone dan selimut langsung dibagikan saat pesawat masih parkir. Selain itu, LCD menjadi fasilitas standar di semua seat. Berbagai hiburan ditampilkan seperti standarnya penerbangan internasional, ada film box office berbagai genre, beberapa film baru, dan tentu saja film Mandarin. Selain itu ada pula musik, permainan, rekaman acara TV dan buku.

Pramugari
Ada hal yang berbeda dari maskapai Hongkong ini, meskipun mereka menggunakan Bahasa Mandarin dan Inggris, rupanya mereka mempekerjakan pramugari Indonesia. Hal ini tentu saja mempermudah komunikasi awak kabin dengan penumpang yang saya lihat banyak berwajah Indonesia.

Makanan
Sekitar setengah jam setelah terbang, juice dibagikan oleh pramugari laki-laki dengan nampan. Hanya ada tiga pilihan: juice jeruk, apel dan air putih. Makanan utama dibagikan sekitar 40 menit setelah pembagian juice. Ada dua pilihan yaitu mie udang dan sosis bakar, dengan pilihan minuman tambahan aneka juice, kopi, teh dan soft drink. Saya tidak melihat minuman beralkohol yang ditawarkan atau ada di troli makanan.

image

Saya pun memilih mie udang yang disajikan dengan buah, yogurt dan roti manis. Bagaimana rasa mienya? Hmmm, ya gitu deh.

Bagasi

Seperti kebanyakan maskapai, bagasi cuma-cuma untuk kelas ekonomi adalah 20Kg, sedangkan untuk kelas bisnis bisa 30Kg. Untuk bawaan di kabin, saya sendiri membawa dua tas, yaitu satu tas punggung berisi kamera video, kamera SLR dan kelengkapannya, sedangkan satu lagi adalah tas jinjing berisi laptop. Saya sempat khawatir jika CX akan menolak bawaan dua tas ke kabin karena ada maskapai lain yang hanya memperbolehkan satu tas/ koper kabin saja untuk penerbangan internasional. Dari situasi ini saya bisa mengacungi dua jempol untuk CX karena memperbolehkan saya membawa dua tas ke kabin.

Demikian sekilas cerita tentang terbang dengan Cathay Pacific dan bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *