Taman Wisata Alam Angke: Menikmati Mangrove di Ibukota

Dimanakah anda bisa menemukan kesejukan di tengah hiruk-pikuk Jakarta? Sejauh ini di tengah kota ada taman Suropati dan taman Situ Lembang di Menteng, atau taman Langsat di Blok M. Namun keberadaan rekreasi alam seakan kurang untuk ukuran populasi manusia di ibu kota. Melongok ke bagian utara Jakarta, di sana ada sebuah kawasan Taman Wisata Alam Angke yang menawarkan kesejukan dan suasana hutan mangrove. Ya, hutan bakau. Sesuatu yang terdengar absurd di kawasan hutan beton tapi nyatanya masih ada secuil tempat untuk refreshing atau sekadar bersantai.

Di Jakarta Utara setidaknya ada tiga kawasan hutan bakau yang dikelola oleh tiga lembaga yang berbeda. Pertama adalah Suaka Margasatwa Muara Angke yang dikelola oleh Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA), Hutan Mangrove Jakarta dikelola oleh Pemprov Jakarta dan terakhir adalah Taman Wisata Alam Angke Kapuk yang dikelola oleh swasta.

Pemandangan hutan dan air terlihat dari sisi masjid terapung
Pemandangan hutan dan air terlihat dari sisi masjid terapung

Dari ketiga tempat itu, yang terbuka untuk umum adalah Taman Wisata Alam Angke Kapuk. Suasana hutan mangrove yang hijau dan air payau yang tergenang luas membuat suasana siang itu semakin sejuk meski mentari cukup terik. Hari itu adalah sabtu saat saya menyambangi destinasi ini dan ramai pengunjung menjadi penambah kehidupan di hutan mangrove.

Berbagai aktivitas seru dapat dilakukan di sini. Sekadar berjalan di atas jalan papan kayu sambil menikmati rindangnya bakau dan kesejukan adalah pilihan utama para pejalan yang mengunjungi tempat ini.

Suasana hutan bakau
Suasana hutan bakau

Jalan papan yang berada di atas air atau jalan yang terbuat dari susunan ranting kayu bakau menjadi sangat fotojenik di sini. Banyak pejalan berfoto di sepajang rute jalan papan atau duduk duduk di bangku kayu yang disediakan. Saya sendiri memilih untuk duduk di sebuah sudut jalan kayu dambil menikmati pemandangan kolam bakau yang maha luas. Tak jarang saya menjumpai beberapa pasang kekasih yang sedang melakukan foto pra-pernikahan di sini. Pamandangan yang indah menjadi latar yang sempurna untuk foto pre-wedding.

Pejalan di atas jalan papan
Pejalan di atas jalan papan

Jalan papan di atas air
Jalan papan di atas air

Jalan papan yang menyusuri sela-sela pohon bakau cukuplah luas untuk membuat kaki anda pegal. Anda bisa menjelajah ke barat atau ke timur. Rekomendasi saya, nikmatilah suasana di sisi barat lebih indah dan dari sini anda dapat menikmati sunset dari atas jalan papan.

Menjelang sunset yang terlihat dari atas jalan kayu
Menjelang sunset yang terlihat dari atas jalan kayu

Selain itu, pengelola juga menawarkan persewaan perahu, baik boat atau perahu dayung. Pilihan terakhir menurut saya sangat mengasikkan untuk dilakukan apa lagi untuk menjelajahi hutan mangrove. Genangan air yang luas dan terkesan berkelak-kelok karena menyesuaikan tanaman mangrove membuat anda berasa berada di pedalaman hutan tropis.

Masjid terapung
Masjid terapung

Aktivitas lain yang bisa anda lakukan di sini adalah menaiki menara pandang untuk menikmati panorama hutan bakau dari atas. Menara ini juga berfungsi sebagai menara pengamatan burung liar yang ada di kawasan hutan.

Kemah (camping) sepertinya juga menjadi pilihan seru untuk menghabiskan malam di sini karena pengelola menyediakan Pondok Kemah. Jangan bayangkan kemah dengan tenda karena pondok kemah di sini adalah semacam bungalow kecil yang berbentuk seperti tenda. Selain pondok kemah, ada pula bungalow-bungalow biasa (disebut Pondok Alam) yang disewakan untuk para pejalan yang berminat menikmati malam di tengah-tengah hutan bakau.

Bungalow yang disewakan untuk umum
Bungalow yang disewakan untuk umum

Secara keseluruhan, tempat ini cukup direkomendasikan untuk anda yang ingin menikmati suasana alam di hiruk pikuk ibu kota. Namun, perlu diperhatikan juga jika anda lapar di sini karena hanya ada satu kantin yang hanya menjual mie instan. Sebaiknya anda dapat membawa bekal terutama jika anda pergi bersama anak-anak.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah anda tidak diperbolehkan membawa kamera professional ke dalam kawasan hutan kecuali anda membayar retribusi kamera profesional sebesar satu juta rupiah. Saya tidak tahu apa alasan diberlakukannya aturan ini, mungkin pengelola menganggap semua kamera profesional digunakan untuk tujuan komersil jadi harus dikenai retribusi tinggi. Untungnya, anda masih boleh membawa ponsel berkamera dan tentunya kamera ponsel diperbolehkan. Saya pun menggunakan ponsel untuk keperluan foto saya di sini.

Berjalan di bawah rimbunnya bakau
Berjalan di bawah rimbunnya bakau

Tarif masuk ke taman wisata alam adalah Rp.25.000 untuk pejalan domestik dan Rp.250.000 untuk pejalan asing. Tarif untuk pejalan asing memang sangat wah, entah kenapa pengelola mematok harga sedemikian. Saya pikir tidak semua pejalan asing adalah orang kaya yang bisa diketok dengan harga tinggi. Banyak pejalan backpacker yang notabene sangat konsen pada anggaran yang ingin memasuki hutan ini tapi akhirnya kecewa karena tarif masuknya yang begitu tinggi.

Tarif sewa perahu motor adalah Rp.400.000 (untuk 8 orang) dan Rp. 350.000 (untuk 6 orang). Sedangkan sewa perahu dayung dihargai Rp.100.000 yang bisa memuat 4 orang untuk (bila tidak salah) durasi sewa selama satu jam. Jika anda bersama pasangan, tentunya akan lebih menarik untuk mendayung bersama diantara rimbunnya bakau seperti pasangan dibawah ini.

Perahu dayung
Perahu dayung

Transportasi ke sini bisa memakai kendaraan pribadi maupun bus. Jika memakai kendaraan pribadi maka akses bisa melalui tol bandara dan keluar di Kapuk Muara-Pantai Indah Kapuk, dan selanjutnya anda dapat menuju PIK dan lanjut ke arah Golf Mediterania hingga bundaran PIK. Selanjutnya ambil jalur ke arah sekolah Budha Tzu Chi karena lokasi Taman Wisata ini berada di belakang sekolah Budha Tzu Chi.

Tanaman bakau yang baru ditanam
Tanaman bakau yang baru ditanam

Jika naik bus Transjakarta, setidaknya ada dua alternatif berikut:
Dari halte busway Monas ambil BKTB (Bus Kota Terintegrasi Busway) jurusan Pantai Indah Kapuk – turun di sekolah Budha Tzu Chi;
Dari halte busway Penjaringan (Transjakarta jurusan Pluit) ambil BKTB menuju PIK dan turunlah di sekolah Budha Tzu Chi, dari sini anda bisa jalan kaki ke taman wisata alam.

Sekadar tips, gunakan alas kaki yang agak tebal semacam sepatu kets atau sandal gunung karena banyak jalan setapak kayu yang tidak rata dan kadang masih ada potongan pokok ranting yang tidak rata. Pengalaman saya menggunakan sandal jepit membuat telapak kaki seperti dipijit refleksi karena seringkali saya menginjak tonjolan ranting yang masih ada di jalan kayu.

Peta lokasi
Peta lokasi

Selamat berekreasi di hutan mangrove!
©thejuicytrip

Peta lokasi:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *