Taman Purbakala Cipari: Wisata Kuningan (4)

Mendengar kata purbakala saya bernostalgia dengan masa SMA saat pelajaran sejarah Indonesia mengajarkan cikal bakal nusantara. Dari pra sejarah hingga jaman sejarah, bangsa Indonesia berkembang menjadi seperti sekarang ini. Salah satu saksi sejarah yang masih ada saat ini bervariasi, dari semacam fosil hingga candi dapat ditemui di Indonesia. Namun sebuah situs yang diyakini sebagai tempat pemukiman penduduk prasejarah tentunya jarang dijumpai mengingat usia artefak yang sudah ribuan tahun usianya. Selain situs Mahek di Payakumbuh, situs Batu Batikam di Batusangkar, atau yang masih menjadi misteri situs Gunung Padang di Cianjur, di Kuningan Jawa Barat terdapat sebuah situs purbakala yang diperkirakan sebuah perkampungan di jaman purba. Wah, saya jadi ingat film Flinstone yang bercerita tentang kehidupan di jaman batu.

Situs purbakala di Kuningan tersebut bernama Taman Purbakala Cipari, sesuai dengan nama desa Cipari tempat situs ini ditemukan. Keunikan dari Taman Purbakala Cipari adalah replika perkampungan yang direkonstruksi ulang sesuai dengan kondisi pertama kali ekskavasi. Daerah Cipari dulu diperkirakan daerah pemukiman manusia dari jamam neolitikum dan perundagian (jaman pengenalan teknologi perunggu). Menurut Wikipedia, situs ini berasal dari tahun 1000SM-500SM.

Pintu masuk Taman Purbakala
Pintu masuk Taman Purbakala

Pertama kali ditemukan pada 1971, situs Cipari mulai diekskavasi pada 1975 oleh tim arkeolog pimpinan Pak Teguh Asmar. Pada penggalian tersebut, tim menemukan dua kubur batu dan didalamnya terdapat aneka perkakas semacam peralatan dapur, gerabah, hingga alat-alat dari perunggu yang kemungkinan digunakan sebagai alat untuk bertani atau mengolah makanan. Uniknya, dua kubur batu tersebut masih dalam keadaan baik saat ditemukan pertama kali.

Kubur batu
Kubur batu

Menurut penjaga museum yang ada di dalam Taman Purbakala, pada saat penggalian tidak ditemukan adanya fosil atau tulang manusia. Menurutnya, kadar asam di desa Cipari sangat tinggi dan mungkin saja sudah menghancurkan tulang belulang manusia purba penghuni Cipari.

Menhir di kiri pintu masuk
Menhir dan dolmen di kiri pintu masuk

Dari penggalian diketahui bentuk awal “pemukiman” di masa pra sejarah Cipari. Kini para arkeolog telah merekonstruksi ulang kawasan “pemukiman” ini menjadi sebuah replika yang disebut Taman Purbakala Cipari.
Memasuki areal yang dipagari tumpukan batu andesit ini, anda akan menjumpai sebuah Menhir raksasa yang terletak di sebelah kiri pintu masuk. Menhir pada jaman prasejarah dipakai sebagai alat untuk mengormati dan tempat singgah roh nenek moyang. Di seberang Menhir pertama, tepatnya di sebelah kanan jauh, terdapat menir lain yang dilengkapi dengan dolmen. Dolmen adalah semacam altar batu yang digunakan untuk persembahan kepada roh nenek moyang. Selain dolmen, di tempat menhir kedua juga ditemukan sebuah batu berlubang seperti permainan congklak, disebut batu Dakon, yang konon digunakan untuk meramu obat-obatan.

Menhir dan dolmen di sisi kanan
Menhir dan dolmen di sisi kanan

Batu Dakon
Batu Dakon

Di antara dua menhir, terdapat semacam tanah lapang yang memiliki dua lingkaran berdiameter sekitar 6 meter. Selain lingkaran batu, terdapat pula dua kubur batu yang tertata rapi dengan lempeng-lempeng batu andesit.

Dua lingkaran ini disebut Batu Temu Gelang yang dibentuk sedemikian rupa dengan batas batu yang tertata rapi sehingga membentuk lingkaran. Di tengah-tengahnya terdapat sebuah batu ukuran sedang yang mungkin dipakai sebagai tempat duduk. Karena konfigurasi ini, arkeolog meyakini jika Batu Temu Gelang adalah tempat bermusyawarah warga Cipari prasejarah. Penjaga museum menjelaskan bahwa di satu sisi lingkaran terdapat semacam meja batu yang dipercaya sebagai tempat menaruh makanan untuk konsumsi rapat. Sungguh peradaban yang lumayan maju ditunjukkan oleh warga Cipari prasejarah.

Batu temu gelang
Batu temu gelang

Selain taman batu purbakala, lokasi ini juga memaparkan aneka artefak yang ditemukan saat ekskavasi. Artefak-artefak ini disimpan dalam museum kecil di dalam kawasan Taman Purbakala.

Contoh artefak yang ditemukan dan disimpan di museum
Contoh artefak yang ditemukan dan disimpan di museum

Akses:
Untuk mencapai destinasi ini cukup mudah. Saya menaiki minibus Elf dari kawasan Cilimus, tempat saya menginap, ke jurusan Cikijing dan turun di depan gapura Taman Purbakala Cipari. Silahkan bertanya ke kondektur elf sebelum anda naik agar tidak salah naik. Siapkan Rp.5.000 untuk membayar ongkos Elf-nya. Dari gapura utama, anda harus berjalan kaki sekitar 500 meter hingga sampai di Taman Purbakala.
gapura masuk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *