Puncak Suralaya di Suatu Sore

Kabut tipis sudah menyelimuti perjalanan saya dan teman saya dengan sepeda motor di suatu sore setelah hujan. Jalan semakin menanjak membuat deru mesin semakin meraung. Masih saja gerimis di sini. Kami mencoba menguak rasa penasaran akan keberadaan puncak bukit yang konon tertinggi di sini. Bukit yang tak hanya tinggi, tapi menyimpan banyak cerita legenda dan misteri. Kabut semakin menebal saat kami tiba di tempat parkir, sebelum perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Empat sosok patung punakawan menyambut kami diantara kabut. Segera kami melaju menaiki anak tangga yang berjajar rapi seakan tak berujung. Mulailah perjalanan kami di sore itu menuju puncak Suralaya.

Bukit ini konon tertinggi di perbukitan Menoreh yang berjajar melintasi dua provinsi, DIY dan Jateng. Konon raja pertama Mataram Islam, Sultan Agung Hanyokrokusumo, mendapatkan wangsit di tempat ini untuk menjadi raja sekaligus menerima kesaktian dari sang Pencipta. Tempat ini juga diyakini oleh sebagian orang sebagai pusat empat penjuru mata angin yang dalam Bahasa setempat disebut kiblat pancering bumi. Setiap tanggal satu bulan Suro, tempat ini menjadi tuan rumah acara adat Jawa yang diselenggarakan oleh keraton.

Punokawan tertutup kabut
Punokawan tertutup kabut

Petualangan menuju ke tempat ini sangatlah seru dan menantang, terutama jika menaiki kuda besi. Jalur sempit nan berkelok  dan penuh tanjakan menjadi sensasi touring yang unik. Memang kontur Kulon Progo kebanyakan berbukit, apalagi di kecamatan Samigaluh ini. Kabupaten Kulon Progo mungkin belum terdengar kuat dikalangan pejalan bila dibandingkan daerah Gunungkidul yang sekarang bagai gadis cantik yang digandrungi oleh para pemuda. Sebenarnya Kabupaten Kulon Progo juga memiliki potensi wisata yang cukup legkap, dari wisata alam hingga wisata religi. Untuk wisata alam sebut saja ada pantai Glagah, pantai Trisik, pantai Bugel, pantai Congot, ada waduk Sermo, dan desa wisata Kalibiru, serta ada pula kebun teh.  Kulon Progo juga memiliki goa yang cukup terkenal karena namanya diambil dari cerita Ramayana, yaitu goa Kiskenda, goa Sriti dan goa lain yang belum diberi nama. Untuk wisata religi, saya bisa bilang jika kabupaten ini memiliki harmoni keagamaan yang tinggi karena di sini ada tempat peziarahan untuk umat Islam dan umat Katholik.

Kecamatan Samigaluh sendiri memiliki beberapa obyek wisata seperti air terjun Sidoharjo, puncak Suralaya, makam Nyi Ageng Serang, dan goa Maria Sendang Sono.

Kembali ke cerita perjalanan saya mengenai bukit Suralaya atau yang juga diucapkan ‘suroloyo’ dalam Bahasa Jawa.  Tampaknya perjalanan saya ke sini tidak di waktu yang tepat karena sudah terlalu sore. Memang saat saya dan teman saya tiba di sini, waktu sudah menunjukkan hampir jam lima sore. Kondisi cuaca yang sedang hujan juga membuat kabut semakin tebal. Sebelumnya kami mampir ke air terjun Sidoharjo yang tak jauh dari Suralaya, namun karena hujan deras sempat turun beberapa lama, maka perjalanan sempat terhenti di sana.

Langkah kaki saya tak henti menaiki ratusan anak tangga menuju puncak tertinggi. Konon ada 280an anak tangga, namun saya sendiri menghitung cuma ada 250an. Kecepatan mendaki pun saya tambah agar tidak didahului oleh gelap. Akhirnya kami sampai di puncak dengan sedikit pemandangan karena sang Menoreh sudah berselimut kabut tebal. Tak lama di sini, gerimis semakin deras dan membuat kami memutuskan untuk turun.

Gasebo di puncak
Gasebo di puncak

Suralaya sebenarnya memiliki tiga puncak dimana masing-masing puncak memiliki gazebo untuk melepas lelah. Ada puncak Kaendran, Sariloyo dan Suroloyo sendiri. Saat kami berkunjung ke sini kami hanya menggapai puncak Suralaya (atau Suroloyo). Konon dari puncak Suralaya ini jika hari cerah, para pejalan dapat melihat candi Borobudur di sebelah utara. Dari Sariloyo, pejalan dapat melihat gunung Sumbing dan Sindoro.

Masih di puncak, ada menara lampu
Masih di puncak, ada menara lampu

Buat para pemotret, tempat ini adalah titik istimewa untuk memotret panorama alam, tentu saja jika cuaca cerah. Waktu yang paling bagus untuk mendapatkan momen adalah saat matahari terbit, saat sang mentari pelan-pelan menyinari bumi dan perbukitan Menoreh. Cahaya keemasan yang memandikan Menoreh konon adalah suatu momen yang paling indah.

Meski kami tak dapat menikmati ‘pemandangan’ yang sesungguhnya karena adanya kabut, saya tidak menyesal menikmati Suralaya dengan kabutnya. Kesan mistis dibalik kabut yang menyelimuti Menoreh adalah sebuah pengalaman yang juicy dalam menikmati karya Yang Kuasa. Lain waktu saya akan kembali ke sini untuk melihat matahari terbit.

Bukit berselimut kabut
Bukit berselimut kabut

Puncak Suralaya terletak di Dusun Keceme, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, atau sekitar 45 Km barat kota Yogyakarta. Untuk kesini sangatlah mudah, dari Tugu Jogja ke barat tak berbelok hingga anda menyeberangi sungai Progo, karena setelah jembatan ada perempatan Kenteng dan di sini anda harus belok kanan ke arah Muntilan. Sekitar 5 Km dari perempatan ini anda akan menjumpai perempatan Dekso, silahkan lurus. Sekitar kurang dari satu kilo ada pertigaan ke Boro, silahkan belok kiri dan ikuti petunjuk arahnya. Jalan akan mulai berliku dan menanjak di sini. Jangan sungkan untuk bertanya penduduk karena mereka sangat ramah dan akan menunjukkan tujuan anda.

Pemandangan di Boro hingga atas sangatlah indah. Anda bisa berhenti untuk bergambar bilamana hari cerah. Selamat bertualang.

Have a juicy trip!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *