Pantai Ngruen: yang Virgin di Gunungkidul

Seorang teman bertanya kepada saya tentang pantai perawan di Gunungkidul, DI Yogyakarta. Sepertinya penggunaan kata perawan sendiri menurut saya adalah tabu karena menyangkut gender. Mungkin lebih baik menggunakan istilah pantai virgin saja agar tidak selalu menggunakan istilah perawan. Jadi dimanakah pantai virgin di Gunungkidul? Jika kriterianya adalah masih murni dan alami alias belum tersentuh manusia sama sekali mungkin tidak ada. Namun jika kriterianya adalah masih alami, tersembunyi dan jarang didatangi manusia (pejalan) tentu saja ada. Dalam kamus perjalanan saya, pantai virgin di Gunungkidul sejauh ini baru ada satu, yaitu pantai Ngruen di desa Krambilsawit, Saptosari, Gunungkidul, D.I. Yogyakarta.

Perjalanan saya waktu itu berangkat dari keisengan saya dan sobat pejalan untuk menjelajahi pantai-pantai di desa Krambilsawit, Saptosari. Desa ini menyimpan keindahan pantai yang belum banyak dikenal oleh para pejalan. Saat saya bertanya ke beberapa penduduk di kawasan desa Jetis, Saptosari (di pinggir jalan besar kecamatan), tentang pantai Ngruen, jawabannya sungguh mengejutkan. Tak ada satu pun yang tahu dimana pantai itu berada meskipun mereka adalah penduduk setempat.

Sebenarnya kami sudah sempat mencari peta pantai ini di google map, namun karena fungsi assisted GPS di ponsel kami terbentur keterbatasan sinyal, maka fungsi GPS pun berubah menjadi Gunakan Penduduk Setempat 🙂 Akhirnya pencarian kami menemui titik terang saat kami bertanya di persimpangan ke arah pantai Ngedan. Di situ ada dua pemuda desa yang sengaja berjaga di pertigaan untuk menunjukkan arah ke pantai Ngedan. Maklum saja pantai Ngedan saat ini memang sedang kondang di kalangan pejalan lokal. Sebenarnya rasa penasaran kami tak hanya pada pantai Ngruen, melainkan juga pantai Butuh yang berlokasi di barat kawasan pantai Ngedan. Setelah berdiskusi panjang lebar dengan salah satu pemuda di persimpangan tadi, kami baru sadar jika pantai Ngruen berada di antara kawasan pantai Ngedan dan pantai Butuh.

Tidak ada akses jalan untuk kendaraan bermotor ke Ngruen, yang ada adalah jalan setapak alias jalan di tengah ladang singkong milik penduduk. Tak ada plang atau sejenisnya yang menunjukkan lokasi Ngruen, dan kami harus menggunakan perasaan untuk mengidentifikasi belokan ke Ngruen yang berada di antara ladang. Karena hanya berwujud jalan setapak, belokan pun menjadi misteri yang harus dipecahkan. Perjalanan kami semakin seru karena rasa penasaran akan keberadaan pantai ini. Hingga akhirnya, sobat saya menghentikan kuda besinya di pinggir ladang kosong. Kami berdiskusi sejenak dan mengingat-ingat peta google dan petunjuk pemuda tadi. Kami pun sepakat jika ladang kosong ini adalah persimpangan menuju Ngruen.

Jalan menuju ke pantai
Jalan menuju ke pantai

Untungnya, ada seorang bapak muncul membawa rerumputan dan saya pun bertanya kepada beliau. Ternyata diskusi kami benar, bapak itu menunjuk ke arah kanan (barat) untuk menuju Ngruen. Memang “GPS” selalu tepat di sini dan dengan bertanya ke penduduk, saya bisa lebih merasakan alam dan manusianya di sebuah destinasi. Kami pun meninggalkan motor di ladang kosong ini dan menurut bapak itu, kondisi di wilayah ini cukup aman.

berbeloklah di sekitar sini
berbeloklah di sekitar sini

Jalan setapak di tengah ladang singkong yang terlihat kering menjadi pemadangan perjalanan sore itu. Sepi dan hanya terdengar suara sapi dari sebuah kandang di tengah ladang. Berbekal pesan si bapak, kami harus belok kanan lagi di sekitar kandang. Di situ tak terlihat jelas, dimana letak ‘pertigaan’ jalan setapak. Jalan utama tampak lebih rapi menuju rindangnya pepohonan jati. Setelah mengamati situasi ladang, kami melihat jalan setapak yang kurang terlihat seperti jalan setapak menuju ke kanan. Kami pun berspekulasi apakah jalan ini yang menuju ke pantai. Bukan petualang kalau tak mencobanya, maka kami pun berbelok ke kanan menembus lahan bertutupan singkong dan pisang.

Jalan setapak di antara ladang dan tebing
Jalan setapak di antara ladang dan tebing

Jalan setapak terus terlihat dan kami pun semakin yakin bahwa kami akan menemukan si Ngruen. Benar saja, sekitar 300 meter dari lahan kosong tempat kami memarkir motor, kami mulai mendengar suara ombak. Tak lama kami sampai di hamparan pasir putih dan kami sampai di Ngruen.

Dan sampailah di Ngruen
Dan sampailah ke Ngruen

Tak ada manusia di situ, hanya pasir putih, batu karang, ombak, angin, dan rerumputan di pinggir pantai, benar-benar virgin!

Pasir putih
Pasir putih

Belum pernah sebelumnya saya berada di pantai Gunungkidul yang tak ada manusianya, setidaknya petani atau nelayan lokal. Perjalanan saya mencari keindahan pantai Gunungkidul kali ini bagai mencapai klimaksnya setelah sekian lama blusukan di kabupaten ini, akhirnya saya menemukan secuil “kayangan” di tanah Gunungkidul.

Tebing karang di Ngruen
Tebing karang di Ngruen

Pantai Ngruen tak begitu besar, mungkin hanya sekitar 30 – 40 meter saja lebarnya. Meski demikian, kondisinya yang masih alami membuatnya tampak berbeda. Bebatuan karang di sisi barat tampak membisu dan kokoh menentang ombak. Sore itu, seperti biasa, laut sedang surut dan tampak lantai karang berpermadani rumput laut khas pantai Gunungkidul.

Sore di Ngruen
Sore di Ngruen

Bebatuan di Ngruen
Bebatuan di Ngruen

Duduk di pasir sambil menikmati angin dan ombak di sore yang teduh sungguh sangat menentramkan. Sesekali tangan ini menyentuh pasir putih yang halus dan bersih. Seharusnya saya bisa datang lebih pagi dan membawa bekal buku dan makanan karena tempat ini sangat cocok untuk bersantai. Mungkin juga kemah barang semalam untuk merasakan hening malam di pantai Ngruen. Seperti terlihat di salah satu sudut pantai yang terdapat noda kehitaman bekas api unggun, sepertinya belum lama ada orang yang berkemah di sini namun lupa untuk membersihkan sisa api unggunnya. Sangat disayangkan karena sedikit noda hitam arang api unggun tampak sangat kontras dengan pasir putih Ngruen.

Menikmati sore di pantai Ngruen
Menikmati sore di pantai Ngruen

Saya semakin penasaran dengan keberadaan pantai-pantai lain di sekitar Ngruen. Saya dengar ada lagi pantai bernama Mbirit yang berada di barat Ngruen. Saya harus kesana…. (bersambung)

Lokasi pantai Ngruen (silahkan berpetualang sendiri): GPS S8°6’50” E110°29’23” atau GPS (Gunakan Penduduk Setempat). Have a Juicytrip!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *