Keindahan Tiga Pantai Butuh

Pasir putih nan bersih menyambut langkah kaki saya dan di depan mata terdapat hamparan rumput laut tampak bagai karpet yang menghijaukan lantai karang. Beberapa petani rumput laut tampak asyik memetik hasil bumi dan di kejauhan tampak ombak yang menari dan akhirnya terhempas karang sebelum mencapai pantai. Tak ada pejalan di sini, tak ada kafe dan warung di sini, tak ada keriuhan di sini, hanya pasir, tebing, angin, beberpa petani dan nelayan, ombak dan sore yang sejuk. Suasana sepi menghanyutkan rasa di pantai Butuh, Gunungkidul.

Keberadaan pantai Butuh hampir tidak terdeteksi di radar pejalan mainstream yang mengidolakan pantai-pantai mainstream di kawasan Gunungkidul tengah seperti pantai Pulang Syawal, Sundak, Kukup, dan Krakal, atau pantai di sisi timur seperti Wediombo dan Nglambor. Pantai Butuh berada di desa Krambilsawit, kecamatan Saptosari, Gunungkidul, atau satu deretan dengan pantai Ngedan, Nglimun, Janganan yang pernah saya sambangi beberpa waktu lalu. Jika dilihat di peta, maka pantai Butuh berada di barat kawasan Ngedan dan di timur Gesing.
pantai butuh sore

Jika dibandingkan pantai lain diatas, menurut saya Butuh cukup istimewa karena sepi dan alami. Selain itu Butuh menyimpan tiga ‘anak’ pantai yang hanya bisa dijangkau saat surut. Bayangkan jika anda datang di hamparan pasir putih pantai nan sepi dan di sisi lain masih ada hamparan pasir putih lainnya yang tak tersentuh pejalan. Bagi saya ini seperti bonus di saat mantai, karena tak hanya sebuah pantai, namun ada dua pantai lagi dalam satu kawasan pantai. Uniknya, saya harus menunggu laut agak surut agar bisa menggapai dua pantai lainnya yang berada di sisi barat.

Dua batu karang
Dua batu karang

Rumput laut di barat pantai utama saat laut surut
Rumput laut di barat pantai utama saat laut surut

Melewati “karpet hijau” rumput laut yang menutupi lantai karang, saya dan sobat pejalan menyusuri bibir pantai dan melewati bebatuan karang yang tampak berserakan. Sesekali kami berhenti dan menepi saat ombak besar datang hingga pinggir. Di atas kami tebing batu karst nan tinggi dan kadang membuat kami was-was karena sewaktu-waktu bisa rubuh. Maka dari itu kami lebih memilih berjalan di atas lantai karang karena lebih aman. Terkadang kami melewati ceruk di karang yang membentuk seperti kolam kecil. Terkadang didalamnya terlihat ikan-ikan kecil yang asik bercengkrama dan tak malu dilihat pejalan.

ikan kecil dan karang yang telah mati
ikan kecil dan karang yang telah mati

Ikan kecil di ceruk karang
Ikan kecil di ceruk karang

Tak jauh dari pantai pertama, kami tiba di sebuah pantai berpasir putih di bawah tebing. Sebuah pohon besar berada di tengah-tengah pantai dan tampak apik berpadu dengan pasir dan bebatuan karst berwarna putih kecoklatan yang berserakan di bawah tebing. Ternyata saat kami sampai di pantai Butuh II (sebutlah demikian) sudah ada beberapa nelayan lokal pencari lobster yang sedang mempersiapkan jaring untuk menangkap lobster dan beberapa pemancing. Ada pula ibu-ibu petani rumput laut yang sedang memetik rumput laut.

Hamparan rumput laut pantai butuh
Hamparan rumput laut pantai butuh

Sisi kanan: Pantai Butuh II yang tersembunyi
Sisi kanan: Pantai Butuh II yang tersembunyi

Kehadiran mereka tampak bagai potret alami sebuah pantai. Sungguh sesuatu yang bermakna saat perjalanan menjumpai kehidupan nyata, saat mata menyaksikan penduduk lokal yang sedang berkerja seirama dengan alam. Tak ada ingar bingar atau celoteh pejalan apa lagi suara musik kafe del mar, semua tampak alami di sini. Nilai lebih sebuah perjalanan adalah pembelajaran yang akan membuat saya belajar tentang kehidupan. Maka dari itu bagi saya, perjalanan blusukan seperti ini akan membuat perjalanan lebih bermakna dan juicy.

Pemancing di pantai Butuh
Pemancing di pantai Butuh

Petani rumput laut
Petani rumput laut

Sekadar duduk-duduk di pasir putih Butuh II telah menyegarkan pikiran saya hingga penat pun terusir olehnya. Begitu tenang dan damai di sini. Saya sempat berpikir jika Butuh II sangat cocok untuk kemah, namun menurut salah satu nelayan, saat air pasang, pantai ini akan tertutup air. Namun kemah di pantai utama tentu saja sangat memungkinkan.

Penampakan pantai Butuh III dengan bongkahan karangnya
Penampakan pantai Butuh III dengan bongkahan karangnya

Beberapa lama di Butuh II, kami penasaran dengan sisi barat karena hamparan rumput laut masih terlihat luat di sisi barat dan seperti memberi tanda bahwa lokasi di sisi barat bisa diakses. Maka kami pun bergerak ke arah barat sambil sesekali mengambil foto pemandangan pantai “rumput laut” dan tebing-tebing yang asri. Saya sempat bertanya kepada seorang ibu yang sedang memetik rumput tentang rumput laut. Ia mengatakan bahwa rumput lautnya dijual di pasar desa dan cara memasaknya ternyata sangat sederhana, yaitu tinggal disiram air panas, dan aneka olahan rumput laut dapat dibuat dari bahan ini. Urap rumput laut mentah, kata ibu itu, sangat enak. Wah, jadi pengen mencoba kuliner rumput laut. Namun sayangnya, di sekitar pantai Butuh tidak ada lapak atau warung, karena lokasinya yang agak terpencil.

Sobat pejalan sedang menikmati pasir putih
Sobat pejalan sedang menikmati pasir putih

Saran saya jika anda kemari adalah bawalah bekal minum dan makanan secukupnya. Namun ingat! Bawa kembali sampah anda dan buanglah di tempat sampah agar kemurnian tempat ini tetap terjaga.

Beberapa saat berjalan, kami sampai di bawah tebing yang cukup tinggi, curam dan panjang. Tebing karst berwarna coklat ini tampak kokoh ‘menantang’ laut. Di bagian bawah, tengah tebing, terdapat ceruk raksasa yang menyisakan pasir putih. Inilah pantai ketiga di kawasan Butuh.

Pantai Butuh ketiga dengan tebingnya (hati-hati dan jangan berlama-lama di bawah tebing)
Pantai Butuh ketiga dengan tebingnya (hati-hati dan jangan berlama-lama di bawah tebing)

Meski tak lebar dibanding luasan pantai utama Butuh, namun kondisi pantai Butuh III yang tersebunyi di bawah tebing membuatnya istimewa. Ditambah ‘cara’ menjangkau lokasi membuat pantai Butuh III semakin tidak biasa. Perpaduan tebing vertikal dan pasir putih di bawahnya serta hamparan rumput laut sangat indah untuk dibingkai dalam foto.

Pasir putih dan tebing
Pasir putih dan tebing

Pantai Butuh, tiga pantai dalam satu kawasan, sungguh alami dan menentramkan. Pantai ini sangat cocok bagi anda yang suka pantai alami dan jauh dari komersialisme. Meski kita tidak tahu sampai kapan Butuh akan tetap alami, namun selalu ada harapan jika pantai di Gunungkidul barat akan selalu alami dan sudah kewajiban kita sebagai pejalan bertanggungjawab untuk menjaga kebersihan dan kelestarian alam di destianasi yang kita kunjungi.
Selamat menikmati pantai Butuh yang Juicy!

Tebing pantai Butuh III
Tebing pantai Butuh III

Lokasi:
Pantai Butuh berada di desa Krambil Sawit, kecamatan Sapto Sari, dan untuk mudahnya, anda dapat berpatokan pada akses ke Pantai Ngedan di desa yang sama.

Akses menuju kemari lebih nyaman melewati Jalan Imogiri (searah dengan makam raja-raja mataram). Setelah pasar Imogiri, anda dapat mengambil kanan dan melewati Siluk menuju ke Panggang, Gunungkidul. Sudah banyak plang menuju Panggang hingga memudahkan pejalan untuk mengaksesnya. Sesampai di pertigaan Panggang, anda akan menemui pertigaan, ambillah yang kiri, menuju Sapto Sari. Setelah melewati balai desa Jetis, di pinggir jalan besar, anda harus belok kanan menuju ke pantai Ngedan. Beberapa ratus meter dari pertigaan balai desa Jetis tadi, anda akan menjumpai plang petunjuk ke pantai Ngedan (yang tertulis di situ pantai Ngeden).

Saat akhir pekan, anda akan menjumpai pemuda lokal yang memungut retribusi desa dengan tariff Rp.2.000 per pengunjung, dan anda dapat bertanya kepada mereka. Namun anda juga dapat berpatokan pada persimpangan berbentuk huruf Y, dimana ke kiri adalah menuju Ngedan, dan ke kanan (menanjak) menuju Butuh. Tak jauh dari situ, anda akan menemukan Butuh. Anda bisa mengecek dulu di peta mbah Google pada koordinat S8°6’42” E110°29’8″. Tidak ada tempat parkir di sini, kendaraan roda dua atau roda empat dapat parkir di perhentian terakhir sebelum bibir pantai.

Baca juga tulisan mengenai pantai di sisi barat Gunungkidul:
Pantai Ngedan
Pantai Janganan dan savananya
Pantai Gesing

Video pantai Butuh:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *