Museum Nasional: Melihat Kembali Kejayaan Nusantara

Gedung tua itu masih tampak kokoh dengan pilar-pilar di berandanya. Arsitekturnya yang bergaya eropa seperti mengatakan bahwa ia adalah peninggalan kolonial belanda. Di depan gedung itu ada sebuah patung gajah kecil yang bertengger di atas sebuah kolam, disamping kanan gedung ada sebuah mahakarya seni rupa yang sangat indah dan sarat makna. Sebuah patung tembaga berbentuk pusaran air dengan sembilan sosok orang yang tampak hanyut dalam pusaran itu. Ku Yakin Sampai Di Sana, itulah judul patung karya sang maestro Nyoman Nuarta. Dalam gedung, langkah ini disambut oleh deretan patung-patung perwujudan Dewa Shiwa dalam berbagai rupa dan ukuran. Bagai kembali ke masa lalu saat Raden Wijaya mendirikan kerajaan Majapahit pada tanggal 15 bulan Kartika, tahun 1215 Saka (10 November 1293). Ya, sebagian dari patung di sini adalah saksi bisu kejayaan masa lalu Nusantara.

Inilah Museum Nasional atau yang sering disebut juga museum gajah karena sebuah patung gajah di depan museum yang dulu dihadiahkan oleh Raja Rama V dari Thailand pada tahun 1871.  Di sini disimpan berbagai peninggalan sejarah peradaban Nusantara yang ditemukan di berbagai tempat di Indonesia. Ada tujuh tema koleksi yang ditampilkan di Museum ini, yaitu koleksi sejarah, geografi, keramik, etnografi, prasejarah, arkeologi, dan numismatic – heraldic. Museum ini juga masuk dalam 10 besar museum terfavorit pilihan pengguna situs tripadvisor.co.id. Museum Nasional memiliki dua gedung utama dimana gedung tua (di sebelah kiri) disebut Gedung Gajah dan gedung baru (sebelah kanan) disebut Gedung Arca.

Patung Pak Nyoman Nuarta sendiri ternyata belum lama diresmikan oleh Wapres Budiono, meskipun telah lama terpasang di situ. Menurut sumber dari Kemendikbud, Wapres meresmikan patung ini pada 19 Oktober 2014 bersama dengan tiga museum, yaitu Museum Perang Dunia Kedua dan Trikora di Pulau Morotai, Empat Klaster Museum di Sangiran, dan Candi Shiwa di Prambanan yang selesai dipugar. Patung Ku Yakin Sampai Di Sana memiliki arti bahwa sebesar apapun halangan dan rintangan yang menghadang apabila diperjuangkan dengan niat ikhlas, penuh semangat, dan menjunjung tinggi persatuan akan mencapai hasil yang maksimal.

Di Gedung Gajah, traveler akan disuguhi koleksi arkeologi berupa berbagai arca dari jaman kerajaan Hindhu-Buddha  dahulu. Arca perwujudan Dewa Shiwa beserta istrinya, Dewi Parwati, cukup banyak dijumpai di ruangan yang tak begitu besar ini. Arca-arca tersebut ditemukan diberbagai tempat seperti Malang, Klaten, Jombang, Tulungagung, Palembang hingga Sumatera Barat. Arca Dewa Shiwa yang ada di sini memiliki beberapa rupa, seperti arca Shiwa Mahadewa, Shiwa Mahaguru, Shiwa berpasangan dengan Parwati, atau Shiwa sedang menunggang Nandi, seekor sapi kendaraan Shiwa. Selain itu ada juga koleksi lain seperti arca Ganesha, Garuda, Lingga dan Yoni, serta prasasti-prasasti peninggalan kerajaan Hundu-Buddha. Di sini juga ada arca sang Buddha yang ditemukan di sekitar Candi Borobudur, Magelang.

Satu arca yang menonjol adalah arca Adityawarman yang ditemukan di Padang Lawas, Sumatera Barat, dan diperkirakan berasal dari abad ke-14. Arca raksasa ini memiliki tinggi sekitar 4,4 meter dan merupakan perwujudan Bhairawa, semacam mahluk Iblis yang menyiratkan energy negatif. Beberapa referensi menyebutkan bahwa Adityawarman adalah anak dari Raden Wijaya (raja Majapahit) dari istri bernama Dara Jingga, seorang putri raja Melayu. Adityawarman mendirikian kerajaan sendiri di Sumatera Barat (sekarang) dengan nama Malayapura.

Archa Adityawarman
Archa Adityawarman

Didepan ruangan arca ini terdapat sebuah taman di tengah-tengah museum yang disebut juga Taman Arca. Taman nan hijau karena rerumputan ini tampak klasik dipadu dengan pilar-pilar besar bangunan museum. Di tengah taman ada lima arca lembu Nandi, kendaraan Dewa Shiwa. Satu arca Nandi ukuran besar di tengah dan dikelilingi empat lembu kecil di setiap penjuru. Di sekeliling taman dan di beranda bangunan museum juga terdapat banyak arca dan patung.

Ada pula arca Shiwa lainnya, berbagai prasasti, potongan relief, lingga dan yoni serta berbagai benda yang terbuat dari batu.

Masih di kawasan gedung yang sama, ada tiga ruangan terpisah yang berisi koleksi lain. Ada ruang keramik yang menampilkan koleksi keramik peninggalan Majapahit dan kerajaan lainnya, serta koleksi keramik mancanegara yang dibawa pada masa lalu dan ditemukan di Nusantara. Koleksi keramik peninggalan kerajaan di masa lalu ini dipajang dalam lemari kaca dengan keterangan yang cukup memadai. Ruang pajang yang ber-AC membuat para pengunjung, terutama pecinta sejarah, menjadi betah untuk berlama-lama mengamati peninggalan nenek moyang bangsa ini. Sebuah koleksi yang menarik perhatian Juicytrip adalah sebuah celengan berbentuk babi peninggalan kerajaan Majapahit.

Celengan babi Majapahit
Celengan babi Majapahit

Ternyata pada masa itu, orang-orang sudah mengenal menabung dan uniknya adalah mereka menggunakan celengan dengan figur binatang yang salah satunya babi dan masih populer hingga sekarang. Di sebuah sudut di ruang keramik ini terdapat ruangan khusus audio-visual dengan deretan kursi-kursinya. Ruangan ini seperti bioskop kecil yang menampilkan video mengenai koleksi keramik di Museum Nasional. Tempatnya bersih dan dingiiiin, bro-sist 😀

Ada pula ruang etnografi yang berisi koleksi produk adat dan kebudayaan Nusantara, dari Sabang sampai Merauke.  Di ruangan ini, bro-sist bisa melihat aneka benda, alat, perhiasan dan pernik yang dipakai untuk acara ritual dan acara adat serta untuk sehari-hari. Contohnya ada perhiasan yang dipakai wanita dari Suku Dayak, ada pula patung-patung tradisional yang melambangkan nenek moyang suatu suku, ada busana adat, senjata tradisional, alat untuk melakukan ritual adat, alat musik, alat pertunjukan dll. Koleksi di ruang etnografi di bagi per cluster sesuai dengan daerah/ sukunya.

Ruangan lain adalah ruang Rumah Adat yang berisi miniatur rumah-rumah adat dari semua daerah di Indonesia. Berbeda dengan rumah adat di Taman Mini Indonesia Indah (baca di sini) yang berukuran sebenarnya (1:1), di museum ini rumah adat berbentuk kecil namun dengan detil yang hampir menyerupai rumah sesungguhnya.

Miniatur rumah adat
Miniatur rumah adat

Setelah menjelajahi Gedung Gajah, Juicytrip melanjutkan langkah ke gedung sebelah (Gedung Arca) dengan melewati ruang kaca. Disebut ruang kaca karena sisi-sisinya diselubungi kaca dan ruang ini juga merupakan ruang serbaguna yang biasa dipakai untuk acara-acara tertentu. Pada saat Juicytrip ke sini, ada panggung dongeng anak-anak.

Setelah melewati ruang kaca, kita akan tiba di gedung museum yang tampak modern, begitulah kira-kira kesan pertama memasuki ruang pamer prasejarah. Saat masuk kita akan disambut dengan papan informasi yang menerangkan koleksi yang ada pada tiap lantai Gedung Arca. Ada empat lantai dimana lantai pertama mengambil tema Manusia dan Lingkungan; Lantai kedua mengenai Ilmu Pengetahuan, Ekonomi dan Teknologi; Lantai III adalah tentang Organisasi Sosial dan Pola Pemukiman, dan Lantai IV mengenai Koleksi Emas dan Keramik Asing.

Suasana museum di Gedung Arca
Suasana museum di Gedung Arca

Meskipun Lantai I bertema Manusia dan Lingkungan, tampaknya koleksi di lantai ini ditekankan pada masa prasejarah karena di sini kita bisa melihat bukti keberadaan manusia purba dan keterangan mengenai proses terjadinya evolusi. Salah satu koleksi yang cukup istimewa adalah fossil tengkorak manusia purba yang pertama kali ditemukan di Indonesia, yaitu Homo wajakensis I. Fossil ini ditemukan oleh B.D. van Rietschoten pada tahun 1889 dan diperkirakan berusia 40.000 tahun. Menariknya, penemuan fossil ini menjadi pemicu arkeolog kondang dari belanda, Eugene Dubois, untuk melakukan ekspedisi ke pulau Jawa setelah tidak menemukan apa-apa di Sumatera Barat. Dubois selanjutnya menemukan fosil manusia dari Wajak yang kedua hingga akhirnya ia menorehkan tinta emas di dunia palaeoantropologi dengan penemuan fossil Pithecantropus erectus.

Di Lantai I ini juga ditampilkan fosil manusia prasejarah yang ditemukan di kubur-kubur prasejarah seperti kerangka manusia yang ditemukan di Kubur Prasejarah Gilimanuk. Ada yang menarik di sebuah sudut ruangan yaitu sebuah replika goa kuburan dengan dekorasi stalagmite dan dibawah goa ada dua buah kaca yang berisi kerangka manusia pra sejarah yang ditemukan di situs Song Keplek, Pacitan, Jawa Timur. Selain itu ada pula patung manusia purba (sekeluarga) yang sedang melakukan aktivitas di sebuah alam. Patung ini tampaknya menjadi favorit pengunjung yang sebagian besar keluarga untuk berfoto ria di depan para ‘manusia purba’.

Melanjutkan langkah ke lantai II, pengunjung tidak perlu capek naik tangga karena di sini ada escalator dan lift. Juicytrip mengacungkan dua jempol untuk Museum Nasional ini karena sangat modern dan memperhatikan kenyamanan pengunjung.  Lantai II berisi koleksi berkaitan dengan ilmu pengetahuan, teknologi dan ekonomi. Ada koleksi terkait Bahasa dan Aksara, Sistem Hukum di Indonesia , Navigasi, Arsitektur, Pengolahan Pangan dan Obat-obatan, Alat Komunikasi, Alat Produksi, Alat Transportasi dan Perdagangan. Kesan pertama masuk ke ruangan pamer di Lantai II ini sangat bersih, luas, modern dan dingin (AC). Ada prasasti yang menunjukkan aksara-aksara pada masa lalu, ada contoh alat navigasi, contoh arsitektur bangunan tradisional, contoh alat perdagangan di masa lalu dll.

Di Lantai III ditampilkan koleksi mengenai Organisasi Sosial dan Pola Pemukiman. Organisasi Sosial yang dimaksudkan adalah sistem tata sosial di dalam masyarakat Nusantara di masa lalu, seperti strata sosial, susunan kemayasyarakatan. Sedangkan Pola Pemukiman adalah cara-cara sebuah masyarakat bermukim dan tinggal di suatu tempat. Sebagai contoh, digambarkan tentang suku Bajo di Sulawesi yang memiliki pola pemukiman (dahulu) dengan cara tinggal di atas perahu, namun sekarang mereka sudah banyak yang mendirikan rumah panggung diatas laut.

Lantai IV berisi koleksi Emas dan Keramik. Emas di sini merupakan peninggalan atau penemuan dari kerajaan-kerajaan di masa lalu. Sedangkan koleksi keramik menggambarkan berbagai jenis keramik yang berasal dari Dinasti Han, Tang dan Ming.

Singkat kata, Museum Nasional yang dibangun pada 24 April 1778 ini berisi koleksi berharga yang menandai berdirinya Nusantara. Museum yang didirikan oleh belanda ini merupakan museum pertama di Asia Tenggara, dan sangat ideal untuk media pembelajaran anak-anak maupun untuk sekadar melakukan wisata sejarah. Tidak ada ruginya jika bro-sist ke sini. Kejayaan dan kekayaan Nusantara semua terpapar di sini.

Happy historical travelling!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *