Jelajah Negeri dengan Pesawat Baling-Baling

Perjalanan menjelajah negeri yang maha luas dan kaya ini seakan tak akan pernah tamat bila dituliskan dalam sebuah jurnal. Dari pulau ke pulau, dari gunung ke gunung, dari pantai ke pantai lagi. Untuk itu sarana transportasi antar pulau atau provinsi menjadi sangat vital di Indonesia, terutama bagi daerah yang masih terpencil karena kurangnya akses. Meski tak semua terpencil, transportasi yang cepat dan murah tidak bisa dipungkiri menjadi harapan para pejalan untuk menjelajahi nusantara. Salah satunya adalah dengan moda pesawat terbang, dan untuk menjangkau daerah yang eksotis, tak semua pesawat bisa digunakan. Untuk hal ini, pesawat jenis baling-baling (turbo prop) menjadi andalan penerbangan perintis untuk memasuki daerah-daerah dengan bandara berlandas pacu pendek. Saat ini pun aksesibilitas dunia pariwisata sangat mengandalkan pesawat semacam ini.

Pemandangan dari atas Susi Air Medan - Meulaboh
Pemandangan dari atas Susi Air Medan – Meulaboh

Angan saya pun bagai terbang ke masa lalu saat saya beberapa kali menumpangi Susi Air jurusan Medan – Meulaboh, tepatnya dua tahun setelah bencana Tsunami di NAD. Pesawat Cessna 208B Grand Caravan menjadi andalan mobilitas kami para pekerja kemanusiaan dari bandara besar terdekat menuju tempat kerja kami.
Cessna Grand Caravan
Cessna Grand Caravan

Sensasi terbang rendah di atas hutan, kebun dan pantai membuat mata ini tak henti menatap ke luar jendela menikmati indahnya Indonesia. Tak hanya Susi Air, petualangan saya di Aceh juga mempertemukan saya dengan CN-235 Merpati yang saat ini (sepertinya) sudah punah.

Sayap
Sayap

Petualangan saya di tanah Jawa mempertemukan saya dengan ATR-72 500, sang primadona dunia maskapai modern saat ini untuk kelas pesawat baling-baling berisi 68 seat. Adalah Wings Air yang membawa saya dari Banyuwangi menuju ke Surabaya.

Yang paling berkesan mungkin saat saya menumpang Merpati. Sekitar Desember 2013, saya bertemu lagi dengan Merpati, namun waktu itu saya menumpang Xian MA-60 buatan Tiongkok untuk penerbangan Denpasar – Praya Lombok. Untung bagi saya, karena dua bulan setelah penerbangan saya dengan MA-60, Merpati dinyatakan bangkrut. Saya semakin merasa beruntung karena perjalanan dengan MA-60 tersebut lancar mengingat ada dua pesawat Merpati sejenis yang mengalami crash.

Terakhir, sekitar awal Juni, saya mendapat kesempatan untuk menumpangi lagi sang primadona, ATR-72 500 milik Garuda Indonesia untuk penerbangan Banyuwangi – Denpasar. Meskipun sempat terlambat lebih dari satu jam, harga tiket Banyuwangi – Denpasar sangat bersaing dengan travel. Maka dari itu saya lebih memilih naik pesawat menuju Bandara Ngurah Rai sekaligus ganti pesawat menuju ke Bandara Cengkareng, Banten.

ATR 72 500 Garuda Indonesia (foto dolanmaning.com)
ATR 72 500 Garuda Indonesia (foto dolanmaning.com)

Dari beberapa pesawat baling-baling yang saya tumpangi, saya menyukai Cessna dan ATR karena kenyamanan. Meskipun menggunakan baling-baling, suara dan getaran tetap halus dan tak sampai mengganggu di kabin. Meskipun yang paling seru adalah naik Cessna. Selain karena terbang rendah, saya sangat menikmati saat pesawat terombang-ambing karena angin kencang. Begitu seru dan meyenangkan bagai naik roller coaster.

Menjelajahi Indonesia bukan perkara mudah dan tampaknya pesawat baling-baling akan semakin menjadi andalan di masa depan, terlebih PT Dirgantara Indonesia akan meluncurkan karyanya, yaitu pesawat isi 19 penumpang bernama N-219. Selain itu, Pak Habibi sang ahli pesawat juga akan meluncurkan R-80, yang berisi 80 tempat duduk. Bukan tidak mungkin ATR-72 akan tergerus pasarnya jika R-80 selesai dibangun. Semoga!

selesai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *