Hutan Pinus Keren di Jogja

Tanah pun sudah tertutup dedaunan pinus kering bak karpet yang empuk. Rimbunnya dedaunan di atas menghalangi mentari yang siang itu tampak terik. Batang-batang pinus menjulang lurus ke atas bagai hutan pinus di daratan eropa yang menyambut musim panas. Saking miripnya, saya tidak bisa membedakan hutan ini dengan hutan pinus di eropa. Hanya suasana yang sedikit berbeda karena banyak pejalan berceloteh dengan Bahasa Jawa. Saya berada di hutan pinus Mangunan, di kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta.

Daun kering
Daun kering

Hutan pinus Mangunan sekarang menjadi primadona para pejalan yang menyukai destinasi alternatif. Meskipun keberadaan hutan ini sudah ada sejak tahun 1985, kedatangan pejalan mulai tercatat pada kisaran 2011. Saya sendiri pernah menyambangi kebun buah Mangunan yang letaknya dekat dengan hutan pinus pada 2010, namun waktu itu daerah Mangunan masih sangat sepi pejalan dan hutan pinus pun belum ‘terdengar’.

Berbeda sekarang, kebun buah mangunan dan hutan pinus menjadi sepaket destinasi yang populer di kalangan pejalan. Hal ini memang bisa dimaklumi karena keduanya menawarkan keindahan alam dan keunikan masing-masing. Setelah merapi meletus pada 2010, praktis hutan pinus di kawasan Kali Kuning habis terkena erupsi. Namun menurut saya pribadi, hutan pinus di Mangunan lebih nyaman dibandingkan di Kali Kuning dulu.

Hutan Pinus Mangunan
Hutan Pinus Mangunan

Memasuki hutan pinus milik Dinas Kehutanan DIY ini, anda akan disambut barisan pohon pinus yang menjulang tinggi. Bagai di film Twilight dengan para vampire yang sedang bercengkrama di hutan, hutan pinus ini bisa dikatakan 80% mirip setting di film tersebut (mohon maaf bila salah, hehe). Udara segar terasa mengisi paru-paru karena memang kawasan hutan lindung ini lumayan luas dan cukup untuk memproduksi udara bersih.

"Atap" hutan pinus
“Atap” hutan pinus

Belum banyak fasilitas berarti di sini, saya hanya dapat menjumpai bangku-bangku kayu dan beberapa ayunan di beberapa titik. Di sisi selatan terdapat sebuah Gardu Pandang (yang lebih mirip rumah pohon) yang cukup tinggi menghadap ke arah lembah Dlingo. Saya memberanikan diri untuk memanjatnya dan sungguh menakjubkan pemandangan dari puncak rumah pohon ini. Hamparan hijau lembah tersaji di depan mata dan semilir angin membuat mata semakin betah memandang dan menikmati pemandangan ini. Di bawah Gardu Pandang tertulis peraturan bahwa Gardu hanya dapat menahan beban sekitar 5 orang, sehingga para pejalan diharapkan antri jika ingin menikmati puncak.

Gardu pandang yang mirip rumah pohon
Gardu pandang yang mirip rumah pohon

Beruntungnya saya saat kemari karena saat itu tidak ada pejalan yang naik ke Gardu Pandang. Saya dan seorang sobat pejalan pun lumayan lama nongkrong di puncak ‘rumah pohon’ sambil menikmati pemandangan.

Pemandangan lembah Dlingo
Pemandangan lembah Dlingo

Di dekat Gardu Pandang terdapat papan petunjuk menuju ke Watu Tumpang, atau Batu Menumpang jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia. Rasa penasaran akan keberadaan batu ini membawa langkah kaki menuruni lembah menuju Watu Tumpang yang lokasinya tak jauh dari Gardu Pandang.

Pemandangan yang ajaib terpampang di depan mata saat kami sampai di Watu Tumpang. Sebuah batu raksasa tergeletak di atas sebuah batu kecil yang jika dinalar tidak akan mungkin terjadi karena gaya gravitasi. Batu yang temumpang atau menumpang diatas sesuatu benda lain memang sesuai dengan namanya. Rasa penasaran pun semakin besar dan saya yakin batu tersebut memiliki sejarah. Saat kami selesai melancong di hutan pinus, kami bertanya tentang Watu Tumpang tersebut kepada pemuda penjaga parkir. Si penjaga pun mengarahkan saya untuk menemui Pak Sutarno sebagai ketua kelompok pengelola wisata di hutan pinus yang kebetulan sedang di situ.

Watu Tumpang
Watu Tumpang

Menurut Pak Sutarno, dahulu kala saat Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar mensyiarkan agama Islam di daerah Dlingo, masyarakat tidak (sulit) percaya akan adanya Tuhan. Karena itu, Sunan dan Syekh memohon kepada Tuhan YME untuk memindahkan batu raksasa itu ke atas sebuah batu kecil untuk menggambarkan bahwa dalam kuasa Tuhan, semua menjadi mungkin terjadi, seperti batu raksasa yang tidak goyang maupun bergeser meski diletakkan diatas batu yang lebih kecil.

Menurut Pak Sutarno, Watu Tumpang juga tidak bergeser sedikit pun saat terjadi gempa besar di DIY pada 27 Mei 2006. Selain itu, di sekitar lokasi juga ada petilasan Syekh Siti Jenar seperti sebuah batu besar disebut Watu Lanang (Batu Pria) dan sebuah petilasan bernama Gunung Kendil.

Terlepas dari sejarah dan cerita masyarakat setempat, hutan pinus Mangunan sangatlah mempesona untuk dikunjungi apa lagi lokasinya yang tak jauh dari kota Yogyakarta. Anda tinggal meluncur ke Jalan Imogiri Timur menuju pasar Imogiri dan sesudah itu ikutilah petunjuk menuju Kebun Buah Mangunan. Sebelum Kebun Buah, anda akan menjumpai simpang tiga dan di situ juga sudah tertulis petunjuk kearah hutan pinus. Tak sulit menjumpainya. Namun demikian, tidak ada kendaraan umum menuju ke sini, anda harus membawa kendaraan sendiri baik itu sepeda, motor atau mobil.

Meski sudah ramai dikunjungi pejalan, kawasan ini rupanya masih dikelola secara swadaya oleh masyarakat di sekitar lokasi. Satu hal yang belum saya lihat di sini adalah tempat sampah. Meski sepele namun tidak semua pejalan memiliki kesadaran kebersihan yang memadai, sehingga keberadaan tempat sampah bisa setidaknya turut menjaga kebersihan hutan. Pengadaan bangku kayu, ayunan maupun gardu pandang oleh masyarakat dapat diacungi jempol karena fasilitas ini dapat menambah kenyamanan dan daya tarik pejalan. Sudah seyogyanya (atau sembantulnya) jika Dinas terkait mengalokasikan sumber dayanya untuk menambah fasilitas di sini.

Selamat menikmati ‘eropa’ di hutan pinus Mangunan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *