Gunung Api Purba Nglanggeran

Dari puncak sebuah bukit batu, terhampar di depan mata saya area persawahan dan perbukitan, di seberang sana ada belasan antenna yang menjulang menantang langit. Di sisi kiri dan kanan saya berdiri batu raksasa, yang lebih tinggi dari tempat saya berdiri. Batu yang hitam keabuan dengan alur vertikal yang sangat tegas. Konon batuan ini sudah ada sejak jaman purba, sebelum manusia modern ada. Saya berada di atas gunung Bagong, begitulah masyarakat lokal menyebutnya, salah satu puncak bukit batu yang berada di kawasan gunung api purba Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul. Sekarang destinasi ini dikenal sebagai Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Nglangeran, namun bagi saya sendiri, kawasan ini adalah lebih dari Ekowisata. Melihat asal-usul gunung api purba Nglanggeran, kawasan ini lebih cocok disebut sebagai Geopark, sebuah konsep wisata geologis yang mengedepankan kelestarian alam, budaya, dan kearifan lokal. Saya sendiri pernah mengulas tentang potensi geopark di Indonesia di sini. Maka pada tulisan ini saya akan menyebut kawasan Ekowisata Nglanggeran dengan Kawasan Nglanggeran Geopark.

Selain pantai-pantainya yang indah dan alami, Kabupaten Gunung Kidul ternyata masih menyimpan keindahan alam yang tak kalah menakjubkan dibandingkan pantainya. Gugusan batu purba raksasa dipadu dengan hijau dedaunan di sela-sela batuan menyuguhkan pemandangan yang panoramic dan mempesona. Bagi para petualang, pejalan atau siapapun pecinta perjalanan maka tempat ini adalah destinasi yang wajib dikunjungi dan dijelajahi. Kenapa wajib dikunjungi, karena kawasan ini mungkin satu-satunya di Indonesia, perbukitan batu purba, yang berada di daratan. Saya jadi ingat tempat serupa di Victoria, Australia, bernama The Grampian, dimana bukit-bukit batu dapat didaki dengan tangga hingga puncak tertinggi.

Begitu pula dengan Nglanggeran Geopark, pejalan dapat berjalan menyusuri track yang telah disediakan untuk mencapai puncak tertinggi yang disebut Gunung Gedhe. Tidak seperti mendaki gunung pada umumnya, mendaki di Nglanggeran Geopark ini menyenangkan untuk didaki karena jalurnya yang pendek dengan berbagai variasi. Contohnya ada jalan rata, menanjak di atas tanah, menanjak di atas batu, tangga kayu, dan yang paling seru adalah lorong sempit di sela-sela batu. Tracking di sini bisa untuk siapa saja, baik untuk pemula maupun para pecinta alam yang sudah banyak makan asam garam. Diperlukan waktu tempuh sekitar satu hingga satu setengah jam untuk mencapai puncak tertinggi di gunung Gedhe.

Dari puncak tertinggi gunung api purba Nglanggeran, pejalan dapat menikmati berbagai pemandangan yang mempesona, ada matahari terbit, panorama alam ngarai dan persawahan, matahari terbenam, serta cahaya lampu kota di Jogja pada malam hari. Suasana yang masih alami dan asli juga membuat tempat ini  cocok untuk merasakan indahnya dengan berkemah.

Batuan purba
Batuan purba

Pihak pengelola memang memperbolehkan aktivitas kemah, bahkan sengaja disediakan beberapa camping ground. Karang taruna pengelola kawasan ini mengemas keunggulan-keunggulan Nglanggeran dengan kreatif.  Seperti yang dipromosikan di website resminya, gunungapipurba.com, pengelola menawarkan tiga paket wisata, yaitu pertama adalah paket Petualangan bagi para petualang, misalnya ada paket jelajah gunung, susur goa, dan panjat tebing batu. Kedua adalah paket eduwisata berupa paket live in di desa, wisata beredukasi lingkungan, seni dan budaya. Ketiga adalah community gathering yang ditujukan untuk para keluarga besar, karyawan, atau komunitas-komunitas. Tak kalah menarik, tempat ini juga dapat dijadikan lokasi untuk outbond.

Jalan setapak di celah batu
Jalan setapak di celah batu

Kunjungan saya ke Gunung Api Purba Nglanggeran sebenarnya sudah direncanakan bertahun-tahun lalu, sebelum kawasan ini menjadi kondang seperti sekarang. Sekitar tahun 2005, seorang teman memberitahu saya jika ada tempat yang sangat bagus untuk dijelajahi dan ‘lain dari yang lain’. Bebatuan raksasa yang tak lazim di Yogyakarta menjadi pemikat buat saya untuk menjelajahi destinasi yang anti mainstream ini. Seiring waktu dan kesibukan, saya selalu gagal berkunjung ke sini, hingga akhirnya tempat ini sekarang menjadi terkenal. Memang sudah selayaknya destinasi ini memberi nilai lebih kepada para penduduk setempat dan saya pun gembira karena tempat ini dikelola dengan baik. Seorang kawan pun tak henti mengajak saya untuk ke Nglanggeran karena penasaran dengan keindahannya.

Perjalanan dimulai

Kawan saya sudah tidak sabar untuk menjelajah mengajak saya dengan sepeda motornya ke kawasan Nglanggeran. Lokasinya tak jauh dari kota Yogyakarta, atau tepatnya sekitar 25 kilometer timur kota Jogja. Perjalanan pun terasa mudah dan cepat melalui jalan raya Jogja – Wonosari karena jalannya yang bagus dan agak sepi di pagi hari. Sebelum jembatan Patuk, ada plang besar bertuliskan “Gunung Api Purba Nglanggeran” dengan petunjuk arah ke kiri. Di sepanjang jalan pun dengan mudah ditemui papan petunjuk menuju Nglanggeran dan dijamin tidak tersesat.

Mendekati desa Nglanggeran, sosok batu raksasa seperti menunggu kami dari kejauhan. Itu adalah salah satu bukit batu purba di Nglanggeran Geopark. Tampak angkuh dan dingin sekaligus indah diantara persawahan. Sepintas tempat ini juga mirip dengan Taman Purbakala Leang-Leang di Maros, Sulawesi Selatan, yang memiliki daya tarik batuan karst besar.  Bedanya, di Nglanggeran Geopark, batuan terbentuk dari material vulkanik yang terbentuk sekitar 60 – 70 juta tahun yang lalu.

Peta jalur pendakian
Peta jalur pendakian

Di Nglanggeran Geopark, pengunjung dipungut retribusi masuk sebesar Rp. 7.000 di siang hari. Tarif pun berbeda untuk malam hari. Pintu masuk kawasan gunung ini ditandai dengan sebuah pendopo yang disampingnya ada sebuah papan petunjuk/ peta untuk menjelajah kawasan. Pengelola sudah membuat jalur trekking untuk menjelajahi Nglanggeran Geopark dan mencapai dua puncak bukit yaitu Gunung Bagong dan Gunung Gedhe. Dimulai dari pendopo pintu masuk, pejalan akan disambut tanjakan kecil yang semakin menanjak. Di sebelah kiri ada gazebo kecil dan juga papan penunjuk arah. Langkah kaki saya semakin bersemangat untuk mendaki di atas batu, tak jarang saya memerlukan bantuan tambang untuk membantu mendaki di atas batu. Tambang pun sengaja disediakan untuk membantu para pejalan. Di beberapa lokasi, terdapat pilihan jalur yang bisa dipilih untuk mendaki, lewat jalur biasa (jalan setapak berundak) atau lewat batu dengan tambang.

Mau lewat jalan setapak atau pakai tambang?
Mau lewat jalan setapak atau pakai tambang?

Tak jauh dari pintu masuk, saya dihadapkan pada sebuah tangga kayu yang terbuat dari tebangan pohon, rupanya tangga ini adalah akses untuk naik ke salah satu batuan. Saya pun penasaran dan menaiki tangga tersebut dan di hadapan saya adalah pemandangan jalan desa yang tadi saya lewati untuk menuju ke sini. Samping kiri dan kanan saya menjulang batu raksasa dengan alur yang tegas dan dalam. Mungkin alur-alur itu adalah bentukan aliran air yang sudah terbentuk sejak jutaan tahun lalu.

Alur batu
Alur batu

Perjalanan saya berlanjut melewati sebuah lorong sempit diatara dua batu raksasa. Lorong dengan jalan setapak sepanjang sekitar 50 meter ini terlihat unik sekaligus tidak biasa. Saya sendiri baru pertama kali melihat ada lorong sempit di antara batuan besar. Sepintas saya teringat film 127 Hours yang mengkisahkan survival seorang pecinta alam yang terjepit batu di bukit semacam ini. Oleh warga setempat, lorong ini disebut Lorong Sumpitan dimana di ujung lorong ada tangga dari kayu dengan sebuah batu besar diatasnya terjepit diantara celah lorong ini.

Perjalanan saya lanjutkan ke timur, dimana jalan setapak sudah disediakan sedemikian rupa untuk ‘kenyamanan’ para pejalan. Hujan yang sudah mulai turun di Gunungkidul memberi sensasi lain dalam berjalan. Jenis tanah di sini adalah tanah liat yang akan menempel pada sepatu/ sandal anda jika tanah dalam kondisi basah, apa lagi beberapa hari ini, Gunungkidul dan sekitarnya selalu disapa hujan. Perjalanan semakin seru dan ‘alami’ karena sensasi tanah liat ini, namun pejalan harus  ekstra hati-hati karena jenis tanah seperti ini sangat licin.

Setelah melewati tanjakan yang panjang, saya sampai di puncak Gunung Bagong. Bukan sebuah gunung seperti arti sebenarnya, Gunung Bagong adalah nama sebuah bukit batu yang dapat kita capai tanpa bantuan peralatan khusus. Dari sini tampak pemandangan bukit Ngoro-ngoro dimana terdapat belasan antenna dan transmitter seluler maupun televisi yang melayani kebutuhan para pelanggan di DIY dan sekitarnya. Konon bukit Ngoro-ngoro dipilih karena ketinggiannya yang memadai untuk didirikan transmitter. Selain itu, ngarai persawahan dan hijau kebun di sekitar Geopark menjadi pemandangan yang indah. Banyak sekali pejalan yang mengabadikan kunjungannya di sini, ada yang ber-selfie ada pula yang saling memfoto. Saya sendiri suka duduk di ujung batu dan menikmati panorama yang indah ini.

Teman saya yang asli Jogja tampak terpesona melihat pemandangan di sini. Meski sudah mulai ngos-ngosan, perjalanan tak terasa melelahkan dibandingkan dengan pemandangan indah yang dilihat. Saya melanjutkan penjelajahan menuju puncak tertinggi, yaitu Gunung Gedhe. Ada dua jalur yang bisa dilewati menuju ke sana dari Gunung Bagong ini, jalur normal dan pintas. Saya memilih untuk melalui jalur pintas di sebelah kanan saya. Mungkin disebut pintas karena jalurnya tidak biasa. Selain menanjak, pejalan harus melewati (lagi) lorong sempit semacam Lorong Sumpitan. Namun yang ini lebih sempit dari pada Lorong Sumpitan. Saya sempat berpikir, apakah benar bahwa lorong ini adalah jalan pintasnya dan apakah tubuh saya cukup langsing untuk melewatinya. Saya pun mencoba masuk dan ternyata tidak masalah. Teman saya tertawa terbahak-bahak ketika menyadari jika ternyata kami masih ‘langsing’ dan dapat melewati lorong ini.

Lorong sempit lainnya
Lorong sempit lainnya

Keluar dari lorong sempit, kami tiba di persimpangan Mata Air Comberan. Mata air ini tidak pernah kering meskipun di musim kering. Selain itu, hal-hal mistis juga dikaitkan dengan mata air ini karena sering dijadikan pertapaan dan tempat ritual di bulan-bulan tertentu. Saya tidak mengunjungi tempat ini. Dalam perjalanan kami melewati beberapa pos yang ditandai dengan keberadaan gazebo. Lumayan buat beristirahat bagi mereka yang letih.

Jalan menuju puncak
Jalan menuju puncak

Langkah saya berlanjut ke arah puncak Gunung Gedhe yang tak jauh lagi. Banyak pejalan berpapasan dengan kami, rupanya tempat ini semakin ramai dikunjungi dan menjadi primadona baru Gunungkidul. Akhirnya kami tiba di Gunung Gedhe. Sebuah plang menyambut kami dengan kata-kata “Anda Luar Biasa – Gunung Gedhe Puncak Gunung Api Purba”.

Papan petunjuk di Gunung Gedhe
Papan petunjuk di Gunung Gedhe

Menaiki Gunung Gedhe tidaklah serumit yang dibayangkan seperti menaiki Gunung Semeru atau Gunung Rinjani. Di sini sudah tersedia tangga kayu untuk memfasilitasi para pejalan menikmati panorama Nglanggeran Geopark. Di atas Gunung Gedhe, saya melihat pemandangan spektakuler berupa gugusan batuan purba yang seakan muncul begitu saja dari atas bumi. Salah satunya adalah Gunung Lima Jari dan Gunung Bochu. Gunung Lima Jari ini dinamai karena bentuknya menyerupai lima jari manusia yang sedang menengadah ke atas. Di samping kanan Gunung Lima Jari adalah Gunung Bochu yang konon menurut mitos dipindahkan oleh Punokawan (tokoh pewayangan yang terdiri dari Semar, Gareng, Petruk dan Bagong) dari Gunung Merapi. Tujuan utama pemindahan batu ini sebenarnya adalah ke Desa Kemadang di selatan Gunungkidul untuk melengkapi pegunungan seribu (Gunung Sewu). Mereka membawanya dengan cara dipikul menggunakan kayu Jarak dan melewati sumber air bernama Dandang. Karena jalannya licin, terpelesetlah salah satu dari mereka dan patahlah kayu jarak yang digunakan. Batu Bochu pun terjatuh di tempat yang sekarang. Begitu ceritanya.

Gunung Jari (kiri) dan Gunung Bochu (kanan)
Gunung Jari (kiri) dan Gunung Bochu (kanan)

Di sisi tenggara, saya melihat Embung Nglanggeran, sebuah telaga buatan tadah hujan yang dibuat untuk pengairan kebun dan sawah di sekitarnya. Di sisi selatan ada puncak lain yang ramai oleh para pejalan yang berfoto dengan kelompoknya. Mungkin karena hari ini adalah Minggu sehingga banyak pejalan yang menjelajah Nglanggeran Geopark.

Menikmati pemandangan indah yang tidak biasa adalah pengalaman berharga bagi saya, terlebih saya melihatnya di Gunungkidul, sebuah kabupaten yang dulu hanya kondang sebagai daerah kering. Kawasan ini menurut saya sangat cocok untuk dipromosikan lebih luas dan dikelola sebagai kawasan Geopark secara professional. Beberapa waktu lalu, Kementerian ESDM, Pemda Pacitan dan Pemda Gunungkidul telah mendaftarkan kawasan Gunung Sewu (yang termasuk Nglanggeran) untuk dimasukkan dalam jaringan Geopark Global UNESCO (UNESCO Global Geopark Network). Status terakhir adalah lokasi sudah dicek langsung oleh staf UNESCO dan semoga Gunung Sewu akan menjadi anggota Geopark Global kedua di Indonesia setelah Gunung Batur di Bali. Ujungnya akan membawa nilai ekonomi untuk masyarakat sekitar tanpa mengabaikan kelestarian alam dan kearifan lokal.

Jika anda ke Yogyakarta, anda harus mengunjungi tempat ini. Lokasinya di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Gunungkidul.

Have a juicy trip!

Anda haus? ada warung es cendol
Anda haus? ada warung es cendol

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *