Grojogan Sewu: Air Terjun Primadona di Kulon Progo

Gerimis menyertai langkah kaki saya melalui jalan tanah yang becek dan berlumpur. Di depan saya ada belasan pejalan yang antusias menyusuri tangga darurat yang disusun oleh warga agar perjalanan ke bawah menjadi lebih aman terutama saat musim hujan yang membuat permukaan tanah menjadi licin. Kami membelah perkebunan milik warga yang sebagian besar berisi pohon cengkeh dan kakao. Udara sejuk Perbukitan Menoreh dan minimnya polusi membawa kesegaran di setiap hirupan nafas dan setelah sepuluh menit berjalan, sayup-sayup terdengar gemuruh air dan suara aliran air. Sebuah air terjun dengan dinding karst putih vertikal terlihat mengalirkan air yang jernih ke kolam bening dibawahnya. Air mengalir ke beberapa tingkatan di bawahnya hingga akhirnya menghilang dibalik bebatuan.

Siang itu saya mengunjungi sebuah destinasi baru yang mulai kondang di Yogyakarta. Kali ini bukan pantai atau gua di Gunungkidul, melainkan sebuah air terjun atau dalam Bahasa Jawa disebut Grojogan yang berada di Kabupaten Kulon Progo. Grojogan Sewu begitu namanya seperti warga di Dusun Beteng, Kecamatan Girimulyo menyebutnya. Mungkin karena grojogan ini memiliki beberapa tingkatan maka dijuluki grojogan sewu atau yang dalam Bahasa Indonesia berarti air terjun seribu.

grojogan sewu dilihat dari atas
grojogan sewu dilihat dari atas

Memang Kulonprogo sebenarnya memiliki beberapa potensi destinasi wisata alam yang  masih alami semacam gua dan grojogan. Beberapa waktu lalu saya juga sempat mengunjungi salah satu air terjun di Kabupaten ini yang sudah cukup dikenal yaitu Curug Sidoharjo di Kecamatan Samigaluh dan puncak Suralaya di kecamatan yang sama.

Para pejalan terlihat mengerubungi Grojogan tingkat pertama
Para pejalan terlihat mengerubungi Grojogan tingkat pertama

Seperti biasa, perjalanan saya kali ini juga dengan menaiki kuda besi. Sensasi touring dengan sepeda motor ke daerah pegunungan bagi saya adalah sebuah kesenangan tersendiri. Mirip dengan topografi Gunungkidul, Kulonprogo memiliki medan tanjakan/turunan yang bervariasi, dari tanjakan pendek dan landai hingga tanjakan panjang dan tinggi. Pemandangan menuju grojogan sewu pun sungguh indah dan panoramic. Pesona bukit dan lembah persawahan sepintas mengingatkan saya pada persawahan di Jatiluwih, Tabanan, Bali. Tak disangka bahwa di Kulonprogo ada pemandangan persawahan yang sangat indah.

Jalan yang menanjak seringkali memberi pemandangan lain yaitu jurang dan bukit. Hijaunya bukit berpadu dengan tebing karst terkadang terlihat di perjalanan menuju ke grojogan. Saya terpaksa banyak berhenti hanya sekadar untuk memotret pemandangan ini. Perjalanan saya sekitar 40Km dari kota Yogyakarta terasa tak melelahkan karena pemandangan yang sungguh indah.

Bukit di pinggir jalan
Bukit di pinggir jalan

Jalur yang paling mudah ditempuh dari Yogyakarta adalah melalui Jalan Godean (Tugu ke arah barat) hingga akhirnya menyeberangi sungai Progo. Setelah jembatan Progo, anda akan menjumpai perempatan Kenteng dan silahkan lurus mengikuti petujuk ke Goa Kiskenda. Mulai dari Kenteng anda akan dimanjakan dengan pemandangan indah alam Kulon Progo. Silahkan ikuti arah ke Goa Kiskenda hingga anda melewati pasar Jonggarangan dan anda akan menjumpai pertigaan kecil di sebelah kiri dengan plang menuju Grojogan Sewu. Selanjutnya anda tinggal mengikuti plang kecil menuju ke lokasi parkir.

Hari itu adalah hari Minggu saat saya bersama dua sobat melancong ke grojogan. Ternyata saat kami datang, parkiran sudah penuh dengan motor dan bersama kami ada puluhan pejalan dari komunitas motor dan pejalan pribadi. Perjalanan menuju ke grojogan memakan waktu sekitar 15 menit berjalan kaki santai melewati kebun dan menuruni lembah. Karena masih baru dikelola, belum banyak fasilitas yang bisa dijumpai di destinasi ini. Meskipun demikian, warga sudah mempersiapkan medan jalan sedemikian rupa agar lebih mudah dilewati oleh para pejalan. Saya juga melihat sudah ada toilet umum di dekat lokasi dan sebuah warung sederhana. Saya rasa campur tangan dari Pemda bisa membantu untuk mengembangkan kawasan wisata baru ini dengan tanpa merusak alam dan kearifan lokal.

Grojogan sewu setidaknya memiliki lima tingkat yang dapat kita sambangi. Pertama adalah air terjun utama dimana air mengalir di atas permukaan tebing karst vertikal setinggi sekitar 10 meter. Air mengalir ke sungai berbatu di bawah tingkat pertama menuju tingkat ke dua yang tak begitu tinggi yang berjarak sekitar 20 meter dari tingkat pertama. Dari sini air mengalir deras menuju ke grojogan di tingkat ke tiga yang juga tak begitu tinggi dan selanjutnya jatuh di grojogan keempat. Grojogan keempat memiliki ketinggian sekitar dua meter dan memiliki genangan yang dapat digunakan untuk berendam. Sedangkan tingkat lima berupa turunan landai menuju celah kecil yang mengalirkan air ke bawah.

Di sini, anda bisa berfoto di dekat grojogan tingkat kedua dan ketiga, meskipun anda harus hati-hati agar tidak terpeleset. Para pejalan pun tampak antri untuk berfoto di tingkatan kedua maupun ketiga meskipun tingkat pertama menjadi yang paling favorit pejalan. Saya sendiri suka mengabadikan gambar air mengalir di tingkat keempat dengan teknik low speed untuk membuat efek air yang halus seperti kapas. Meskipun saya hanya memakai kamera saku, namun hasilnya lumayan seperti dibawah ini:

Saya menunggu cukup lama untuk dapat memotret grojogan tingkat pertama namun kerumunan pejalan dari komunitas motor sangat betah untuk bermain di kolam tingkat pertama. Beberapa dari mereka tampak memanjat dinding karst dan beberapa bermain air di sekitar tingkat pertama. Banyaknya orang di sekitar tingkat pertama membuat obyek alam menjadi kurang menarik buat saya. Lama menunggu sambil menikmati aliran air, akhirnya hujan deras turun dan membuat para pejalan mencari perlindungan darurat. Hujan deras dan kabut yang turun pun ternyata tak membuat para anggota komunitas motor tersebut menyingkir hingga akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke atas karena hujan semakin awet derasnya.

Sekadar saran buat para pembaca yang akan mengunjungi destinasi ini jika ingin menikmati sepinya alam dan mengabadikan gambar grojogan maka disarankan untuk datang bukan di hari libur.  Grojogan sewu sekarang bagai primadona baru di Kulon Progo, dan saya yakin lokasi ini akan semakin ramai di masa mendatang.  Akses menuju grojogan dari lokasi parkir adalah jalan tanah berundak yang sangat licin di kala basah, dan terkadang bisa berubah menjadi liat berlumpur. Gunakanlah alas kaki yang paling nyaman untuk mendukung medan ini. Tidak ada retribusi resmi di sini, para pejalan hanya disarankan untuk mengisi kotak sumbangan secara sukarela untuk mendukung perawatan lokasi ini.

Menurut saya, pemandangan alam menuju ke Grojogan Sewu dan kealamian lingkungan di sini membuat perjalanan saya tak sia-sia. Grojogan Sewu berlokasi di Dusun Beteng, Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kulon Progo. Sebelum anda berangkat, anda bisa bertanya ke simbah Google dengan memasukkan koordinat ini -7.749970, 110.143058. Meski demikian saya sarankan untuk bertanya ke masyarakat lokal karena mereka akan membantu anda dengan senang hati dan ramah.

Have a juicy trip!

6 thoughts on “Grojogan Sewu: Air Terjun Primadona di Kulon Progo

    1. Monggo mampir ke kulon progo kl lg maen k jogja 🙂 kulon progo sebenarnya punya banyak grojogan, tp belum banyak terekspos. selain itu ada gua, pantai n wisata religius.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *