Goa Maria Sawer Rahmat, alternatif wisata religi Katolik di Kuningan: Wisata Kuningan (3)

Tak disangka jika di daerah Kuningan/ Cirebon dan sekitarnya terdapat destinasi wisata religi Katolik yang cukup kondang di dunia pariwisata kabupaten Kuningan. Pada perjalanan saya sebelumnya ke curug Putri di kawasan Palutungan, desa Cisantana, saya melewati sebuah tempat dengan plang petunjuk “Goa Maria Sawer Rahmat”. Karena penasaran, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi destinasi ziarah khas agama Katolik ini.

Langkah kaki saya disambut oleh beberapa lapak oleh-oleh yang siap melayani kebutuhan oleh-oleh para peziarah. Ada keripik, buah sirsak, dan aneka benda religius seperti Rosario dan pernak-pernik religius lainnya. Saya bertanya kepada salah satu penunggu lapak, kemanakan arah Goa Maria-nya? Penunggu lapak malah balik bertanya kepada saya, “Lagi survey ya mas?” Dia mengira saya sedang survey untuk kegiatan ziarah yang biasanya diorganisir oleh organisasi muda-mudi Katolik (Mudika). Setelah berbincang sebentar, si bapak penunggu lapak menunjukkan jalan beton yang menuju ke rute Jalan Salib dan berakhir di Goa Maria.

Rute Jalan Salib rindang
Rute Jalan Salib rindang

Menurut bapak penjaga lapak, rute Jalan Salib menuju Goa Maria berjarak sekitar 1 km dengan medan berupa jalan paving batu yang menanjak. Konon kawasan Goa Maria Sawer Rahmat dibangun di atas sebuah bukit bernama bukit Totombok dengan ketinggian 700 mdpl. Rute sepanjang 1 Km tersebut adalah rute napak tilas kisah sengsara Yesus Kristus pada saat disalibkan. Dalam tradisi Katolik, doa Jalan Salib dilakukan dengan memperingai 14 perhentian (station) dimana masing-masing perhentian merupakan peringatan atas perjalanan sengsara Yesus dari peristiwa pengadilan hukuman mati hingga wafat di bukit Golgota dan dimakamkan.

Rute Jalan Salib
Rute Jalan Salib

Kembali ke rute perjalanan menuju puncak Totombok, saya meninggalkan lapak dan mulai melewati hutan jati. Rimbunya hutan jati menjadikan suasana siang itu terasa tidak panas. Selanjutnya, sampailah saya di permulaan Jalan Salib, yaitu sebuah tempat doa bernama Taman Getsemani. Dari taman Getsemani ini, umat Katolik yang berziarah memulai prosesi Jalan Salib.

Saya berjalan mengikuti jalan setapak yang sudah disiapkan dengan rapi untuk kenyamanan para peziarah. Satu demi satu perhentian Jalan Salib yang berbentuk relief saya lewati dan tak jarang lilin-lilin masih menyala sebagai tanda jika doa-doa baru saja dipanjatkan di perhentian tersebut.

Tempat ini memang sangat asri dan rindang, hingga saya pun dengan nyaman berjalan dinaungi pepohonan. Jalan yang semakin menanjak membuat nafas lumayan ngos-ngosan dan saya bisa bayangkan jika tempat ziarah ini sangat cocok untuk menambah kekhusukan umat Katolik dalam berdoa jalan salib. Meskipun, jerih payah fisik untuk menggapai puncak Goa Maria tidak lah sebanding dengan penderitaan Yesus Kristus saat memangul salib ke puncak Golgota.

Setelah menikmati perjalan di alam yang sejuk, saya tiba di “Golgota” atau yang dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Bukit Tengkorak, tempat dimana Yesus dan dua penjahat disalibkan. Golgota versi Totombok ini dijadikan perhentian ke-12 dari prosesi Jalan Salib, yaitu saat Yesus wafat di kayu salib. Sebuah salib raksasa berdiri tegak di bawah pepohonan dan seakan menyadarkan manusia akan perbuatannya yang penuh dosa.

Golgota
Golgota

Dua perhentian setelah perhentian ke-12, prosesi jalan salib berakhir di perhentian peristiwa “Yesus Dimakamkan”. Setelah perhentian ke-14 tersebut, para peziarah akan sampai di tempat yang dituju yaitu Goa Maria. Di situ saya disambut dengan beberapa pancuran yang mengalirkan air jernih yang digunakan oleh umat peziarah untuk membersihkan diri sebelum berdoa. Beberapa peziarah tampak memasukkan air ke dalam botol untuk didoakan dan dibawa pulang untuk keperluan masing-masing.

Pancuran di pelataran goa
Pancuran di pelataran goa

goa maria sawer rahmat

Menurut salah satu penjaga di Goa Maria, air pancuran tersebut berasal dari sumber alami yang juga sumber dari curug Sawer. Karena itu lah Goa Maria yang diresmikan tahun 1990 ini dinamai Sawer Rahmat yang berarti turunnya rahmat (dari Tuhan YME).

Saya pun membasuh muka dengan air Sawer Rahmat dan memang sungguh menyegarkan. Saya juga meminumnya langsung sebagai obat haus setelah ‘treking’ di rute Jalan Salib. Bagai air mineral, air dari pancuran tersebut segar dan tak berasa.

Bagi para pembaca yang beragama Katolik, anda harus mengunjungi tempat ini jika sewaktu-waktu anda berkesempatan mengunjungi Cirebon dan sekitarnya. Atau langsung saja kemari saat akhir pekan!

Have a juicy religious trip!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *