Ayo Nonton Dieng Culture Festival 2016!

Udara dingin dataran tinggi mungkin tak akan menyurutkan langkah kaki ini bila diizinkan untuk melihat gelaran budaya yang sayang untuk dilewatkan. Selain itu ada pula pentas jazz yang berjuluk jazz di atas awan… wow! Canggih sekali judulnya dan saya tak bisa membayangkan alunan jazz menelusup diantara kawanan awan di atas gunung nan tinggi. Tak ketinggalan beberapa keindahan destinasi alam di tempat ini yang juga sayang untuk dilewatkan dan puncaknya adalah upacara pemotongan rambut gimbal yang hanya ada di sini. Itulah gambaran acara Dieng Culture Festival (DCF) yang tahun ini akan menginjak usia 7 tahun, alias 7 kali digelar. Ada pula pesta kembang api dan pelepasan ribuan lampion yang menambah kolosal perayaan DCF. Tahun lalu DCF telah menarik perhatian ribuan pejalan dari seluruh dunia dan nusantara dan jika anda tak mau ketinggalan, maka anda bisa mempersiapkan diri untuk meluncur ke Dieng pada 5 – 7 Agustus 2016.

Apa itu Dieng Culture Festival (DCF)?

DCF bermula dari acara tahunan Ruwatan Anak Berambut Gimbal yang dulu belum terkemas dalam format festival seperti sekarang. Dahulu acara ruwatan tersebut hanya sekadar upacara budaya yang belum dikenal luas. Sekadar informasi, fenomena anak berambut gimbal alami banyak terdapat di dataran Dieng. Percaya atau tidak, masyarakat setempat percaya bahwa kegimbalan tersebut terjadi secara gaib dan tidak bisa sembarangan dipangkas karena bisa membawa sial atau bencana. Oleh sebab itu, diperlukan perlakuan khusus melalui upacara Ruwatan. Dalam adat Jawa, ruwatan bisa diartikan sebagai prosesi atau ritual adat untuk mensucikan manusia atau sesuatu. Dalam konteks anak berambut gimbal, ruwatan dimaksudkan untuk meminta berkah dari Tuhan YME untuk memangkas rambut gembel tersebut dan menghindarkan para keluarga dan masyarakat di sekitar anak yang diruwat dari petaka.

Dalam laman resmi DCF, www.dieng.id, sesepuh masyarakat Dieng bernama Pak Naryono mengatakan tentang esensi upacara ruwatan anak berambut gembel,

Anak berambut gembel adalah anak bajang titisan Eyang Agung Kaladate dan Nini Ronce selaku leluhur warga suku Dieng. Karena dianggap titisan dewa itulah, maka anak berambut gembel tidak boleh dipotong rambutnya secara sembrono (asal). Jika rambut anak gembel dipotong tidak melalui acara ritual yang khusus, maka si anak akan jatuh sakit dan dipercaya akan mendatangkan bencana bagi keluarganya.

Jadi, inti dari DCF adalah upacara ruwatan anak berambut gimbal. Dahulu, ruwatan hanya dilaksanakan secara biasa oleh desa atau pemerintah setempat. Kurang lebih pada tahun 2007, ruwatan dikemas dalam format lebih besar dan menarik bernama Pekan Budaya Dieng dengan berbagai atraksi tambahan. Komplek candi Arjuna pun dijadikan venue utama beberapa rangkaian acara termauk Ruwatan.

Seiring waktu berjalan, tepatnya pada 2010, dan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan di dataran tinggi Dieng, acara ruwatan dikemas ulang dalam bentuk festival dan disisipi acara tambahan yang dianggap bisa menarik banyak wisatawan seperti jazz, lampion, karnaval budaya dll. DCF sendiri tak sekadar acara tahunan, namun dibalik itu terdapat kolaborasi apik dari masyarakat di dataran tinggi Dieng dengan Dinas terkait. Pemberdayaan masyarakat melalui kelompok sadar wisata patut dicontoh oleh daerah lain karena budaya dan masyarakat serta industri wisata dapat berjalan bersama untuk kepentingan dan manfaat bersama. Konsep ini terbukti langgeng dan sudah berjalan di tahun ke-7. Semoga DCF semakin berkembang dan sustainable.

Komplek Candi Arjuna dari kiri ke kanan: Candi Semar, Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra
Komplek Candi Arjuna dari kiri ke kanan: Candi Semar, Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra

Teknis DCF

DCF menawarkan dua macam tiket: tiket khusus dan reguler. Tiket khusus menawarkan manfaat akses terusan tiga hari dengan bandrol Rp. 250.000 (pre sale – hanya untuk 3.500 tiket) dan Rp. 350.000 (on spot dan terbatas). Kenapa hanya 3.500 tiket? Karena tiket khusus tersebut termasuk akses ke Ruwatan Rambut Gembel dimana kapasitas lokasinya hanya dapat menampung 5.000 orang. Selain itu bila anda membeli tiket khusus maka otomatis termasuk tiket masuk venue utama Jazz di atas Awan.

Total manfaat tiket khusus sesuai informasi resmi di www.dieng.id adalah:
[1] free pas masuk lokasi wisata kawasan candi arjuna, kawah sikidang dan telaga warna selama festival berlangsung,
[2] mendapatkan t-shirt khusus DCF (all size),
[3] mendapatkan 1 buah lampion,
[4] mendapatkan 1 buah kembang api,
[5] bisa masuk venue/lokasi pertunjukan jazz atas awan,
[6] bisa mendaftarkan diri menjadi peserta kirab budaya (terbatas hanya 100 orang), dan
[7] mendapatkan selendang khusus untuk dipergunakan saat upacara ritual cukur rambut gembel.

Tiket Reguler juga disediakan di lokasi namun memiliki aksesibilitas terbatas, seperti tidak bisa masuk venue utama Jazz di atas Awan. Untuk jelasnya, silahkan cek di situs resmi penjualan tiket di sini.
Acara utama selama tiga hari tersebut adalah (informasi lengkap, bisa cek di sini):
5 Agustus 2016 – Pembukaan, Maiyahan dan Jazz di atas Awan dengan penampil Cak Nun feat. Kyai Kanjeng
6 Agustus 2016 – Scooter Fun Tracking, Jalan Santai, Purwaceng Party, Parade Seni Budaya dan Gerlap Lampion
7 Agustus 2016 – Rampak Budaya Nusantara (kirab) dan prosesi Ruwat Rambut Gembel

Agenda DCF (screenshot dari dieng.id)
Agenda DCF (screenshot dari dieng.id)

Jadi tunggu apa lagi? Segera pesan tiket Dieng Culture Festival atau tunggu tahun depan! 🙂 Baca juga agenda menarik lainnya dalam waktu dekat yaitu perayaan Waisak di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *