Curug Sidoharjo Samigaluh: Air Terjun Rahasia di Jogja

Pernahkah anda ke Jogja? Tapi pernahkan anda berkunjung ke air terjun atau curug di jogja? Mungkin selama ini ada satu air terjun yang sudah lumayan kondang di Jogja dan sekitarnya, yaitu air terjun Sri Getuk, yang berada di Gunungkidul. Namun gambaran air terjun yang tinggi dengan air yang deras menghujam ke tanah mungkin tak akan dijumpai di Sri Gethuk karena kondisi alam yang berbeda. Adalah air terjun Sidoharjo atau yang disebut Curug Sidoharjo oleh masyarakat setempat yang masih jarang dikunjungi oleh wisatawan. Hanya para pejalan lokal yang sebagian besar mahasiswa yang pernah menjelajahi destinasi ini. Memang jika dibandingkan Sri Gethuk, Curug ini tidak terkenal sama sekali. Meskipun demikian curug Sidoharjo mulai dikenal oleh para backpacker dan travel blogger sehingga tidak sulit untuk melihat keindahannya di warung mbah Google.

Pada awalnya, saya tidak tahu sama sekali menganai keberadaan Curug Sidoharjo  yang terletak di desa Sidoharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo. Meskipun saya memiliki seorang sahabat yang asli Samigaluh, tapi yang bersangkutan tidak pernah menyebut Curug ini. Hanya sesekali ia mengundang saya untuk menjelajah goa Kiskenda dan goa Sriti yang hingga sekarang belum kesampaian.

Hingga suatu hari sahabat saya di Jogja mengenalkan curug ini. Rasa penasarannya yang tinggi menjadi penyemangat untuk segera mengeksekusi rencana ke curug. Hari itu saya dan teman saya menjelajahi Gunung Api Purba Nglanggeran, Gunungkidul, dan dilanjutkan ke barat melintasi dua Kabupaten/ Kota yaitu Kabupaten Sleman dan Kota Jogja, hingga akhirnya kami sampai di Kabupaten Kulon Progo.

Tur lintas kabupaten ini sebenarnya tidak direncanakan secara pasti, semua hanya mengalir seperti tur yang sudah –sudah. Lokasi Curug ini adalah searah dengan puncak Suralaya yang sebelumnya saya tulis di sini. Berada di arah yang sama, curug ini mudah digapai dari pertigaan Boro menuju Suralaya.

Sekitar 5 km dari pertigaan Boro, ada plang kecil di kanan jalan menunjuk ke sebelah kiri. “Curug Sidoharjo” begitulah bunyinya, namun plang ini sangat kecil sehingga mudah terlewat. Patokan paling gampang adalah sebuah masjid yang berada di depan plang kecil tadi. Saya sempat bingung karena plang menunjuk ke masjid, namun setelah bertanya ke penduduk, saya menemukan jawabannya. Memang akses ke curug ini harus melalui halaman masjid, karena di samping masjid ada gang kecil menuju ke lokasi. Buat motor tidak menjadi masalah untuk masuk ke gang, namun bagi yang bermobil, maka mobil bisa diparkir di halaman masjid.

Jalan menuju curug
Jalan menuju curug

Sekitar 200 meter dari masjid terdapat sebuah rumah yang bertuliskan penitipan motor. Sepertinya ini adalah perhentian terakhir sebelum perjalanan dapat dilanjutkan dengan berjalan kaki. Kami menitipkan motor di sini sambil bertanya-tanya dimanakah letak sang curug.

Atas arahan seorang ibu tua pemilik rumah penitipan motor, kami berjalan menyusuri kebun cengkeh. Jalan setapak di sela-sela rerumputan yang sudah mulai menghijau menemani langkah saya. Saat saya ke sini, Jogja dan sekitarnya sedang berada di awal musim hujan. Hampir setiap sore hujan. Kami pun agak khawatir karena cuaca sudah terlihat mendung dan sepertinya hujan akan turun tidak lama lagi.

Jalan di dalam kebuh cenkeh
Jalan di dalam kebuh cenkeh

Tanaman cengkeh merupakan komoditas utama di daerah Samigaluh yang berkontur berbukit. Selain buahnya yang berharga tinggi, daun cengkeh kering juga laku dijual untuk bahan baku minyak cengkeh. Terang saja jika di area curug ini dipenuhi dengan pohon cengkeh.

Perjalanan ke curug tak memakan waktu lama. Sekitar 10 menit berjalan, saya melihat tebing yang menghitam dengan air menetes dari atas. Itulah curug Sidoharjo yang ternyata sedang kering karena musim kemarau . Meski musim telah berganti, sumber air di atas belum mencapai debit yang besar untuk menggelontorkan air ke curug. Pemandangan curug yang tersembunyi ini pun tetap juicy walau tanpa air. Tak mengherankan jika curug ini disebut curug rahasia karena lokasinya yang tersembunyi dan tanpa banyak petunjuk maupun promosi dari Pemda setempat.

Menuju curug melewati titian bambu
Menuju curug melewati titian bambu

Teman saya berseloroh jika kami terlalu sore datang ke curug sehingga kran curug sudah dimatikan sama pengelolanya 😀 Memang saat kami mencapai curug jam sudah menunjukkan pukul 3 sore.

Curug ini berada di tengah kebun yang alami dan belum tampak komersialisasi di sekitarnya. Saya tak menjumpai sampah barang selembar plastik. Sungguh menyenangkan berada di alam yang bersih dan alami. Memang seharunya demikian bukan?

Tebing curug ini mungkin memiliki ketinggian lebih dari 50meter. Kami pun  terasa kecil di bawah curug yang kering. Warna hitam di permukaan tebing adalah warna lumut. Jenis batu karst yang membentuk tebing memang menjadi media yang baik untuk tumbuhnya lumut. Saat kami menikmati pemandangan, tampak beberapa pejalan mendatangi curug dan mereka mengaku juga baru pertama kali ke sini. Konon, curug ini pernah dijadikan tempat shooting iklan minuman berenergi yang dibintangi oleh Iko Uwais.

Meski tak ada air yang terjun, saya tidak kecewa karena baru kali ini saya melihat curug yang sejatinya besar namun sedang kering. Silahkan lihat foto-fotonya di bawah ini:

Tak lama di sini, hujan tiba-tiba turun begitu derasnya. Kami berlari terbirit-birit meninggalkan curug untuk kembali ke parkiran. Sambil menunggu hujan reda, saya dan teman saya membahas rencana klithihan  (jalan-jalan – dalam Bahasa Jawa) selanjutnya. Akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan petualangan ke puncak Suralaya yang tak jauh dari curug.

Have a juicy trip!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *