Curug Seribu, Curugnya TN Gunung Halimun Salak

Waktu itu seorang teman menawari saya untuk bertandang ke rumahnya di daerah Parung Panjang, Kabupaten Bogor, sekaligus mengajak bertualang ke Taman Nasional (TN) Gunung Halimun Salak (GHS) untuk melihat curug Cigamea.

Gayung pun bersambut, waktu itu hari Sabtu, pagi-pagi saya menuju ke Parung Panjang dengan Commuterline dari Kalibata ke Tanah Abang dan berganti kereta jurusan Parung Panjang. Karena tak mau kehilangan banyak waktu di perjalanan, maka saya putuskan untuk pagi-pagi berangkat. Menurut informasi teman, dibutuhkan waktu sekitar tiga jam dengan motor dari rumahnya ke kawasan TN GHS.

Well, saya mulai saja cerita petualangan ke TN GHS ini. Dari Parung Panjang, kita mengendari Honda Revo pinjaman melewati kawasan pedesaan khas kabupaten Bogor yang masih terlihat kurang tersentuh pembangunan, walaupun hanya berjarak sekitar 1,5 jam dari Ibu Kota. Jalanan rusak dimana-mana dan musim hujan membuat perjalanan makin seru karena lumpur bercampur air membuat kaki berlumuran lumpur bak dari sawah. Truk-truk pasir sepertinya menambah kerusakan jalan menjadi makin parah.

IMG_0625
Truk membuat jalanan di Parung Panjang rusak

Saya berpikir, apa yang dilakukan Pemprov Jabar dan Bupati Bogor sehingga tempat ini tidak dapat menikmati fasilitas infrastruktur yang layak. Mungkin saja Bupati Bogor memang layak di penjara sebab baru-baru ini si Bupati Bogor ditangkap KPK karena kasus korupsi. Amanah yang diembannya sebagai Bupati seharusnya bisa untuk mensejahterakan masyarakat Kabupaten Bogor, bukan untuk perutnya sendiri.

Balik lagi ke perjalanan. Sawah, ladang dan bukit-bukit kecil kita lewati begitu menarik. Ternyata di kabupaten ini juga terdapat perkebunan sawit. Benar saja kata temen saya, kita telah menghabiskan hampir tiga jam saat motor sudah memasuki kawasan hutan. Mungkin jika tidak nyasar, perjalanan bisa lebih cepat.

persawahan
Persawahan menuju TN Halimun Salak

Dari papan petunjuk yang kita lihat sebelum memasuki hutan, ternyata ada banyak curug di TN GHS. Ada curug Cigamea, curug Cangkuang, curug Pilung, curug Ciputri, curug Ngumpet, curug Seribu dan masih ada beberapa lagi namun saya tidak hapal.

Awalnya kita akan ke curug Cigamea, namun entah kenapa temen saya menawarkan ke curug Seribu karena kata temannya lebih alami dan belum banyak pengunjung atau pedagang. Mendengar kata alami, saya iyakan saja usulan untuk ke curug seribu dari pada curug Cigamea.

Di perjalana kita melihat beberapa curug yang ramai dikunjungi. Mungkin karena letaknya di dekat jalan utama jadi lebih mudah diakses. Kita juga melihat ada obyek wisata Kawah Ratu pada perjalanan menuju curug Seribu. Mungkin lain kali kita akan ke kawah itu, untuk saat ini kita tak mau membuang waktu untuk ke tempat lain agar perjalanan ini bisa ditempuh salam satu hari.

Kita sempat berhenti untuk foto-foto di hutan pinus yang terbelah jalan dalam kawasan TN GHS.

Hutan pinus di TN Halimun Salak
Hutan pinus di TN Halimun Salak

Ternyata memang benar, untuk ke tempat parkir curug Seribu, kita harus melewati jalan tanah, keluar dari jalan utama. Dari parkiran kita masih harus berjalan kaki kurang lebih 1 kiloan ke curug Seribu.

Jalan menuju Curug Seribu
Jalan menuju Curug Seribu

Tak apa lah, saya suka melihat pemandangan dan menikmati hutan dengan berjalan kaki. Toh memang ini tujuan kita untuk melihat keindahan alam di TN GHS. Walaupun jalan setapak, namun sebagian besar jalan sudah diperkuat dengan ubin batu yang tertata rapi dan jika jalanan menurun, terdapat pula railing tangga yang bisa buat pegangan. Beberapa puluh meter dari permulaan trekking, kita bertemu portal penjaga dan ditarik retribusi sebesar Rp. 5000 per orang. Tidak ada karcis maupun kuitansi pada retribusi ini. Sepertinya mereka adalah pemuda lokal yang mungkin memelihara kawasan ini. Memang saya akui tempat ini lumayan tertata, setidaknya ada tempat sampah disepanjang jalan setapak. Selain itu banyak papan peringatan untuk menjaga kebersihan dan ketertiban.

Sekitar lima belas menit berjalan kita bertemu dengan curug kecil yang menggoda para pengunjung untuk menyentuh gemericik air yang jatuh dari tebing yang tak tinggi. Airnya sangat sejuk dan jernih, sangat segar untuk membasuh muka dan sekadar merendam kaki di bawahnya.

Curug kecil sebelum Curug Seribu
Curug kecil sebelum Curug Seribu
Curug indah tanpa sampah? Totally agreed!
Curug indah tanpa sampah? Totally agreed!

Setelah menikmati curug kecil itu, kita melanjutkan langkah kaki menuju sang curug utama. Suara deru air yang membentur bumi sayup sayup terdengar. Bagai alunan musik merdu di sebuah lembah alami, sungguh damai mendengarnya, sejuk udaranya dan tenang sekali. Sangat cocok untuk refresh pikiran dari kepenatan dan ke-absurd-an Jakarta.

Pemandangan hutan menuju Curug Seribu
Pemandangan hutan menuju Curug Seribu

Well! Setelah berjalan sekitar 10 menit, kita melihat mahakarya sang pencipta. Sangat indah! Tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Silahkan lihat sendiri foto-fotonya 🙂

Ga ada di Jakarta!
Ga ada di Jakarta!
Masih alami
Masih alami
IMG_0877
Jernih
Amazed by nature
Amazed by nature

Itulah curug Seribu. Pantas untuk dikunjungi apalagi letaknya tak jauh dari Ibu Kota. Happy travelling!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *