Menikmati Pesona Curug Seribu

Hampir setahun lalu saya mengunjungi salah satu destinasi air terjun di kawasan Taman Nasional Halimun Salak di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Waktu itu saya dan seorang teman menyambangi curug Seribu yang terletak di Desa Gunung Sari, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Dan akhir pekan lalu, saya menemani beberapa teman kembali menikmati suasana alam di curug yang memiliki ketinggian tebing tertinggi dibanding curug lain di kawasan wisata Gunung Salak Endah. Berbeda dengan saat musim hujan dimana debit air tinggi dan hujaman air membuat kawasan di bawan air terjun bermandikan butir air yang terpecah karena derasnya air. Kali ini debit air agak kecil namun pesona curug sepertinya tak berkurang sedikitpun. Tebing tinggi berhias hijau pepohonan dan segarnya udara bagai penyempurna trekking kami menuju ke curug Seribu.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 3 jam dari stasiun Parung Panjang, melewati jalanan jelek dan rusak karena lalu lintas truk pembawa pasir, kami tiba di gerbang Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) dan membayar retribsi sebesar Rp. 7.000 per orang.

Saya sarankan untuk meminta karcis resmi sejumlah orang yang masuk karena ini adalah salah satu tanggungjawab kita sebagai pejalan untuk membayar kontribusi resmi ke negara dalam bentuk PNBP (pendapatan negara bukan pajak). Pada kunjungan ke curug Cigamea beberapa waktu lalu, saya sempat berdebat dengan penjaga gerbang karena salah satu dari mereka tidak mau memberikan karcis dan malah menjawab dengan nada emosi. Bisa saya pahami jika kontrol atas pemasukan daerah wisata masih sangat minim. Praktek punggutan tanpa karcis tentu saja akan menguntungkan si oknum penjaga karena uang akan mengalir ke kantongnya. Jika anda minta karcis, maka setidaknya jumlah dan nomor karcis yang keluar bisa dijadikan alat kontrol untuk mengetahui jumlah pejalan yang masuk ke sebuah destinasi.

Hutan Pinus
Hutan Pinus

Sekitar 1.5 km dari gerbang, perjalanan kami terhenti karena keberadaan hutan pinus yang terlihat sangat fotojenik. Sepintas, hutan pinus ini bagai hutan pinus di dataran eropa dan sepintas lagi seperti tempat shooting film (atau perasaan saya saja :D). Kami berhenti di sini dan berfoto-foto di bawah rindangnya hutan pinus.

Anda tidak perlu bingung mencari lokasi curug Seribu karena pengelola sudah menyediakan baliho besar di setiap pintu masuk kawasan curug. Saya kaget saat tiba di titik mula trekking karena di situ terdapat baliho kecil bertuliskan ‘Curug Muara”. Lah, ada curug lagi?

Jalan menuju Curug Muara
Jalan menuju Curug Muara

Memang kawasan TNGHS seperti menyimpan ratusan curug dan tak mengherankan jika ada curug “baru” yang mulai dikenalkan. Saat kunjungan saya tahun lalu, saya tidak mendapati informasi apapun mengenai curug Muara tersebut dan kini ada informasi mengenai curug lain di satu kawasan dengan curug Seribu. Di situ terlihat prasarana berupa jalan batu sudah dipersiapkan menuju ke curug Muara.

Penasaran, namun karena tujuan kami ke curug seribu dan hari sudah sore, maka kami tetap melanjutkan perjalanan ke curug Seribu. Menuju ke curug Seribu, anda harus berjalan kaki kurang lebih 500 meter dengan waktu tempuh santai sekitar 35 menit.

Trek menuju Curug Seribu
Trek menuju Curug Seribu

Sebelum melangkah jauh, pejalan wajib membayar retribusi masuk curug Seribu sebesar Rp.7.000. Berbeda dengan retribusi TNGHS yang dikelola kementerian Kehutanan, retribusi masuk ini dikelola oleh Proyek Pertanian Veteran & Demobilisasi RI. Jangan lupa minta karcis tanda pembayaran. Berbeda dengan tahun lalu, saat itu kami dipungut Rp. 5000 tanpa karcis. Tampaknya sekarang sudah ada kemajuan dan di karcis tertulis bahwa retribusi digunakan untuk pemeliharaan, kebersihan dan asuransi.

Trek menuju Curug Seribu
Trek menuju Curug Seribu

Medan jalan setapak menuju ke curug seribu sebenarnya sudah tertata apik dengan tatanan batu. Namun di sebagian tempat tampak rusak karena longsor atau memang dibiarkan alami. Medan menuju ke curug tampak menurun dan sesekali menurun curam dengan anak tangga alami. Hati-hati karena terkadang licin dan berjalanlah di sisi kiri agar lebih aman karena di sisi kanan kadang terdapat tanah gembur (sisi bibir tebing) yang tidak stabil saat diinjak.

Gemericik curug kecil yang ada di pinggir jalan setapak menyambut kami di tengah perjalanan. Airnya jernih dan sejuk sangat segar untuk cuci muka. Beberapa pejalan tampak beristirahat di sini sambil merendam kaki sambil menikmati suasana alam. Di seberang curug terdapat lapak yang tahun lalu tidak ada. Meskipun lapak tersebut masih kosong dan belum ada aktivitasnya.

Curug kecil sebelum Curug Seribu
Curug kecil sebelum Curug Seribu

Pemandangan di sekitar trek
Pemandangan di sekitar trek

Akhirnya setelah 35 menit berjalan dan istirahat, kami sampai di sang Seribu. Gemuruh air menjadi simfoni alam di sore itu. Mentari sore yang menembus lembah memberikan pelangi di dasar curug. Sesuatu yang tidak saya jumpai saat saya ke sini tahun lalu.

Curug Seribu
Curug Seribu

Sore itu curug Seribu lumayan ramai oleh pejalan yang sedang menikmati air atau sekadar duduk-duduk dan bercanda dengan teman-temannya. Namun satu hal yang sangat buruk dilakukan oleh para pejalan tersebut karena mereka meninggalkan sampah sembarangan. Berbagai jenis botol plastik dan bungkus kudapan mereka tinggalkan begitu saja di atas bebatuan.

Pemandangan Curug Seribu dan curug kecil di sisinya
Pemandangan Curug Seribu dan curug kecil di sisinya

Seharusnya sebagai pejalan yang bertanggungjawab, kita wajib menjaga kebersihan dan kealamian lokasi wisata. Seperti kata nasehat perjalanan:

Jangan tinggalkan kecuali jejak,
Jangan membunuh kecuali waktu,
Jangan ambil kecuali foto.

Patuhilah rambu-rambu peringatan di curug Seribu karena ada daerah-daerah yang licin dan berbahaya. Di sini ada penjaga dan sekaligus penjaga lapak mie instan yang memiliki megaphone dan selalu sigap meneriaki mereka yang memasuki kawasan berbahaya.

Lokasi curug Seribu dapat digapai dari Bogor kota atau Parung Panjang. Namun tidak ada trayek kendaraan umum yang sampai di kawasan wisata Gunung Salak. Solusinya bisa sewa angkot dari Stasiun Bogor dengan tarif standar per hari sekitar Rp.500.000 PP (all in, tidak termasuk retribusi masuk obyek wisata) atau sewa angkot dari Stasiun Parung Panjang dengan tarif sekitar Rp. 450.000 PP (all in, tidak termasuk retribusi masuk obyek wisata). Jarak tempuh di akhir pekan tidak bisa diprediksi karena kemacetan, meskipun dilihat dari peta, akses dari kota Bogor lebih nyaman dan jalan yang dilalui lebih bagus dibandingkan akses dari Parung Panjang.

©thejuicytrip

Peta:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *