Aneka Wayang di Museum Wayang

Beberapa minggu lalu saya berkunjung ke Kota Tua di Jakarta, khususnya ke Taman Fatahilah. Ternyata di kawasan ini juga terdapat museum wayang yang teletak di salah satu sisi Taman Fatahillah. Hanya dengan membayar Rp.5000 para pengunjung bisa melihat berbagai koleksi wayang dari berbagai daerah di Nusantara, bahkan Mancanegara. Museum yang diresmikan oleh Gubernur  Ali Sadikin pada tanggal 13 Agustus 1975 ini memuat koleksi wayang dari daerah-daerah di Indonesia seperti Jawa, Sunda, Bali, Lombok, Sumatera dan juga luar negeri antara lain Malaysia, Suriname, Perancis, Tiongkok, India, Polandia, Vietnam, Inggris, Amerika Serikat dan Rusia. Tak kurang dari 6000an wayang menjadi penghuni gedung  yang dulunya adalah Museum Batavia yang dibuka pada tahun 1939 oleh Gubernur Jenderal Belanda yaitu Tjarda van Starkenborgh Stachouwer (susah banget namanya ya).

Begitu masuk museum, saya disambut dengan wayang golek  raksasa dan sebuah lorong menuju ruang koleksi menampilkan berbagai dekorasi wayang kecil dan wayang besar. Kesan pertama memasuki museum  ini seperti memasuki rumah tua yang dibuat museum karena suasananya yang hangat dan rapi. Saya sarankan anda untuk meminta brosur museum agar lebih mudah mengerti tentang koleksi di museum ini. Di sepanjang dinding lorong di beranda utama terdapat display kaca yang berisi koleksi wayang dengan tema cerita Ramayana yang menggunakan karakterisasi wayang golek. Pada permulaan lorong, ada sebuah monitor interaktif yang berisi informasi aneka koleksi wayang di museum.

Beberapa replika wayang golek karakter Ramayana berukuran besar juga dipajang di lorong ini. Langkah kaki saya akhirnya meninggalkan lorong utama dan saya tiba di sebuah taman yang bisa saya bilang seperti taman prasasti. Banyak tulisan belanda di dinding taman ini, dan di sisi taman ada nama-nama belanda yang dulu pernah memerintah di batavia. Sebut saja ada nama Jan Pieterszoon Coen, gubernur jenderal hindia belanda ke empat di Nusantara,  yang cukup menonjol. Ternyata di taman ini adalah makam dari orang tersebut.

Berlanjut ke gedung belakang, setelah taman makam tersebut. Saya menaiki tangga ke lantai dua untuk melihat koleksi lengkap segala rupa dan jenis wayang dari Nusantara dan mancanegara. Di ruangan yang lumayan luas ini, saya dihadapkan dengan aneka jenis wayang dari Jawa, dan ternyata saya baru tahu bahwa wayang kulit purwa tidak hanya berkembang di Yogyakarta dan Solo. Daerah lain pun memiliki wayang khas tersendiri, dengan jenis dan nama masing-masing. Uniknya, wayang golek juga tak hanya dari tanah Pasundan saja karena di Kebumen, Jawa Tengah, juga ada wayang golek yang disebut golek menak. Hal yang paling membanggakan menurut saya yang saya jumpai di sini adalah wayang Suriname. Betapa tidak, orang-orang Jawa yang berada di Suriname tak lupa dengan asal usul budayanya dan berusaha untuk melestarikan kesenian tradisional identitas mereka.

Bentuk wayang golek menak dari Kebumen
Bentuk wayang golek menak dari Kebumen

Bagi anda yang menyukai budaya, maka tempat ini adalah tempat yang tepat untuk mendapatkan pengetahuan tentang dunia pewayangan di Indonesia. Semua koleksi wayang disimpan dengan baik di almari kaca. Secara umum, koleksi di sini dibagi menjadi tiga koleksi utama, yaitu wayang sebagai yang utama, topeng dan perlengkapan. Koleksi wayang sendiri masih terbagi menjadi empat kategori, yaitu wayang kulit, wayang golek, wayang klitik dan wayang mainan.

Koleksi wayang kulit purwa antara lain berasal dari Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, Kalimantan, Sumatera,  Lombok, bahkan ada wayang kulit Betawi. Selain wayang kulit yang berpakem Jawa tulen, koleksi wayang kulit ini juga menunjukkan banyaknya improvisasi desain dan tujuan pembuatan wayang. Contohnya wayang kulit Sadat yang dibuat tahun 1985 oleh orang Klaten bernama Suryadi Warnosuhardjo yang digunakan untuk penggambaran agama Islam di dalam pesantren. Wayang ini masih menggunakan budaya Jawa sebagai dasarnya namun desain wayang lebih realis. Selain itu ada pula wayang Wahyu yang dibuat pada 1960 atas inisiatif dari rohaniwan Katholik, Bruder Timo Heus Wignyosubroto, namun wayang dibuat oleh R Soerasdi. Wayang ini menggambarkan kisah dalam Injil yang dipentaskan pada hari besar agama Katholik. Ada juga wayang perjuangan yang disebut juga wayang Revolusi yang dibuat pada tahun 1950-an oleh Raden Mas Sayid untuk menggambarkan perjuangan. Namun demikian, koleksi asli wayang Revolusi ini sudah dibeli oleh sebuah museum di roterdam dan yang ada di museum wayang hanya duplikatnya saja.

Selanjutnya, koleksi wayang golek di museum wayang ini menampilkan jenis-jenis wayang golek yang tak hanya dari Jawa Barat, namun ada pula wayang golek Betawi, golek menak Cirebon, golek menak Jawa Timur, dan Kebumen seperti yang saya sebut di atas.

wayang golek
wayang golek

Koleksi wayang Klitik atau disebut juga Krucil adalah wayang yang badan, kaki dan kepalanya terbuat dari kayu pipih yang berbentuk dan berupa sama dengan wayang kulit, namun tangannya terbuat dari kulit. Menurut situs museumwayang.com, wayang Klitik dibuat pada 1648 oleh Raden Pekik di Surabaya yang mengangkat cerita Damarwulan dan Minakjinggo.

Koleksi wayang mainan menampilan berbagai bentuk wayang yang dipakai untuk mainan anak. Uniknya, wayang ini tidak terbuat dari kulit seperti pada umumnya, namun terbuat dari berbagai bahan seperti rumput (wayang suket), kardus, dan anyaman bambu.

Wayang suket untuk mainan anak
Wayang suket untuk mainan anak

Selain koleksi wayang, museum ini juga menyimpan aneka topeng dari Bali, Cirebon, Yogyakarta, Surakarta, dan Malang. Sedangkan koleksi yang tak kalah penting dalam dunia pewayangan adalah perlengkapan pementasan wayang seperti gamelan dan perlengkapan lain.

aneka koleksi topeng
aneka koleksi topeng

Menariknya, museum wayang di kota tua ini juga memiliki koleksi wayang dari negara lain yang berbentuk wayang dan boneka. Ada wayang dari malaysia, india, vietnam, polandia, amerika, bahkan rusia.

Museum wayang juga menyelenggarakan pagelaran wayang secara rutin, yaitu pagelaran wayang golek setiap hari Minggu ke-2, wayang kulit betawi setiap Minggu ke-3 dan wayang kulit purwa setiap Minggu terakhir.

Toko suvenir
Toko suvenir

Museum ini cocok untuk segala umur karena sangat menarik untuk media pembelajaran kebudayaan Nusantara.

Jadi, selamat berwisata budaya.

Have a juicy trip!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *