Pagi di Anak Krakatau

Mentari masih belum muncul saat perahu yang kami tumpangi terombang-ambing oleh ombak besar di perairan selat Sunda. Dua jam lamanya hidup terasa dekat dengan yang Kuasa karena nyawa bagai hendak digulung oleh ombak yang tinggi. Setelah terombang-ambing ombak, akhirmya kami berlabuh di pulau Anak Krakatau. Di sini lah tujuan utama saya dan 52 orang kawan pejalan untuk melihat legenda Krakatoa yang dulu mengguncang dunia. Setelah letusan besar di tahun 1800an, Krakatau lenyap dan menyisakan gunung Rakata dan Anak Krakatau. Di kalangan pejalan, Anak Krakatau kini menjadi magnet tersendiri dan menjadi favorit bagi mereka.

Krakatau yang dulu pernah meletus dengan dahsyatnya hingga membuat dunia menjadi gelap gulita selama dua hari, kini ia meninggalkan sebuah anak gunung yang mulai tumbuh menjadi raksasa baru dan beberapa pulau lainnya. Letusan Krakatau pada 1883 memunculkan gugusan kepulauan vulkanik yang sekarang disebut dengan kepulauan Krakatau yang terdiri dari empat pulau: Rakata (atau disebut juga Krakatau Besar), Panjang (atau Krakatau Kecil), Sertung dan Anak Krakatau.

Gunung Rakata  terlihat dari Anak Krakatau
Gunung Rakata terlihat dari Anak Krakatau

Sekarang kepulauan Krakatau menjadi destinasi penelitian ilmiah dan juga destinasi wisata kelas dunia karena semua mata tertuju pada pesona Anak Krakatau. Saya pun penasaran dengan pesonanya, hingga akhirnya seorang sobat pejalan menawari saya untuk bergabung dengan open trip ke Krakatau dengan durasi dua hari dua malam.

Pilihan untuk bergabung dengan open trip adalah karena kepraktisan saja, sebab masalah transportasi ke pulau sudah diatur dan disediakan oleh operator perjalanan. Perjalanan ke Krakatau sendiri (dari Jakarta) memerlukan aneka moda transportasi umum sehingga penggunaan open trip dapat meminimalisir keribetan mencari transportasi di Bakahuni menuju ke pelabuhan Canti, penyeberangan ke kepulauan Krakatau, sekaligus menunggu kapal ke Krakatau. Selain itu, operator perjalanan membantu kami untuk memperoleh izin memasuki kawasan konservasi (SIMAKSI) mengingat kawawasan Anak Krakatau berstatus Cagar Alam.
cagar alam krakatau

Selain destinasi Anak Krakatau, operator juga memasukkan aktivitas snorkeling di dalam paket perjalanan. Setidaknya ada 3 spot snorkeling yang ditawarkan sekaligus kunjungan ke pulau kecil bernama Pulau Umang-umang yang berada di dekat pulau Sibesi tempat kami menginap di homestay.

Pantai pasir putih di pulau Umang-umang (masuk paket perjalanan open trip)
Pantai pasir putih di pulau Umang-umang (masuk paket perjalanan open trip)

Pulau Sibesi tempat kami bermalam
Pulau Sibesi tempat kami bermalam

Perjalanan ke Anak Krakatau diawali saat pagi buta. Dari pulau Sibesi, kami berangkat pada jam 04:00, langsung menuju pulau Anak Krakatau. Ombak yang lumayan besar mengombang-ambingkan perahu yang meraung-raung melawan ombak dan efek ombak pun membuat perut seperti dikocok, dan ‘penderitaan’ ini harus kami rasakan selama dua jam. Tak jarang teman-teman pejalan mabuk laut dan tak ketinggalan saya sendiri (maaf) memuntahkan isi perut ke lautan lepas.

Sekitar jam 06:00 kami berlabuh di pantai Anak Krakatau yang berpasir hitam. Mentari pun sudah terlihat namun sudah agak tinggi. Langit pun tampak keemasan diterangi mentari pagi. Di samping perahu kami sudah bersandar empat perahu seukuran yang sepertinya juga mengangkut jumlah pejalan yang kurang lebih sama. Krakatau memang menarik para pejalan untuk menikmati pesonanya.

Mentari sudah cukup tinggi saat kami sampai di Anak Krakatau
Mentari sudah cukup tinggi saat kami sampai di Anak Krakatau

Trekking adalah hal yang harus dilakukan di sini. Medan berpasir menuju ‘puncak’ Anak Krakatau sepintas mengingatkan saya pada Segara Pasir di Bromo. Namun demikian, Bromo menurut saya lebih luas dan lebih ‘dramatis’.

Medan pasir menuju ke 'puncak'
Medan pasir menuju ke ‘puncak’

‘Pendakian’ menuju kawasan puncak Anak Krakatau ditempuh dalam waktu yang sangat singkat. Saya dan kawan-kawan pejalan hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit saja dan itu pun diselingi pengambilan foto. Pemandangan di sini sangat indah dan tidak biasa. Seperti pemandangan gunung Rakata yang terlihat di seberang pulau Anak Krakatau. Sebuah gunung di tengah laut dan kombinasi pemandangan perairan yang tenang sangat apik dibingkai dalam foto. Di salah satu titik, di tikungan terakhir menuju puncak, anda dapat melihat lava kering yang berwarna coklat tua. Tempat ini pula menjadi titik foto paling pas dengan latar belakang gunung Rakata.

Indonesia selamanya
Indonesia selamanya

Saat ini gunung Anak Krakatau berketinggian sekitar 230 mdpl. Namun para pejalan tidak diperbolehkan ‘mendaki’ hingga puncak Anak Krakatau karena sangat berbahaya. Gunung ini aktif dan sewaktu-waktu dapat menyemburkan gas beracun. Pejalan hanya diperbolehkan ‘mendaki’ sampai titik tertentu di bawah kawasan puncak. Sebuah fakta ilmiah yang cukup mengagetkan adalah pertumbuhan gunung Anak Krakatau. Menurut Wikipedia, ada dua versi kecepatan pertumbuhan si kecil Krakatau ini. Satu versi menyebut pertumbuhan sebesar 0.5 meter per bulan dan versi lain menyebutkan pertumbuhan sebesar 4 centimeter per tahun. Entah versi mana yang betul, namun pastinya Krakatau junior sedang dalam masa pertumbuhan .

Gunung Anak Krakatau
Gunung Anak Krakatau

Puas menikmati pemandangan dari kawasan puncak Anak Krakatau dan berfoto dengan kawan-kawan pejalan, kami kembali ke pantai untuk makan pagi. Untuk anda ketahui, di pulau Anak Krakatau tidak ada lapak atau warung makan, jadi anda harus membawa bekal secukupnya. Tapi, sebagai pejalan bertanggungjawab, anda harus menjaga kebersihan di kawasan cagar alam ini.

Perhentian selanjutnya adalah Lagoon Cabe, salah satu spot snorkeling favorit di kawasan kepulauan Krakatau.
Anda tertarik?

Have a Juiytrip!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *